Jendral besar Sudirman adalah orang yang tepat dan layak untuk di sebut pahlawan, sehingga tidak salah kalau bangsa ini menyematkan pahlawan baginya. Kepemimpinanya yang integratif, membuatnya di senangi kawan di segani lawan. Ia sangat bersahaja dan juga rendah hati. Ia adalah konseptor cerdas, motivator sejati, dan juga juga ekskutor ulung. Setidaknya dalam hemat saya, inilah yang membuat kepemimpinannya kuat. Di tengah kondisi fisiknya yang lemah, Ia tetap lantang bersuara di medan pertempuran meski harus keluar masuk hutan belantara, dan juga tetap bersuara tegas di meja perundingan.
kita tentu berharap bahwa tipe pemimpin, seperti jendral besar Sudirman, hadir di Manggarai Barat. Pemimpin yang tidak hanya memiliki gagasan-gagasan yang cemarlang, tapi juga ia mampu mengawal gagasan-gagasannya. Dan pada saat yang sama, ia juga mampu mengekskusi gagasan-gagasannya dalam realitas kehidupan. Layaknya Jendreal besar Sudirman, ia tidak hanya ahli strategi perang, tapi ia juga harus naik turun gunung untuk bertempur melawan penjajah. Pekerjaan-pekerjaan besar itulah yang membuat namanya besar.
Kredibiltas seorang pemimpin setidaknya dapat di ukur dari adanya keselarasan kata dan perbuatan. Kualitas seorang pemimpin juga dapat di lihat sejauh mana ia mampu mengekskusi ide dan gagasannya dalam realitas kehidupan. Kita tidak dapat berharap banyak dari tipe pemimpin yang pandai berbicara namun gagap dalam bertindak. Pemimpin yang didambakan sebetulnya adalah pemimpin yang memiliki visi kuat dan kemauan keras untuk mengawal dan mengekskusi gagasan-gagasannya. Sehebat apapun gagasan kalau tidak dikawal dan diekskusi, gagasan itu akan menjadi liar dan sia-sia. Dan kalau gagasan sudah liar, ia akan menjadi senjata makan tuan. Karena tidak sejalanya gagasan dengan perbuatan. Kalau dalam konteks politik ia tidak akan di percaya rakyat dan tentu tidak akan di pilih lagi dalam pemilu.
Kita semua mempunyai peluang yang sama untuk menjadi pemimpin besar. Yang terpenting dari itu adalah, kita harus mampu menghadirkan inovasi –inovasi ide, gagasan-gagasan kuat, konsep-konsep jenius. Tidak hanya sampai di sini, kitapun harus mampu mengawal dan mengekskusi ide-ide, gagasan-gagasan dan konsep-konsep itu, sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
..... Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis .....(anis matta)
Cari Blog Ini
Sabtu, 02 Juli 2011
Senin, 13 Juni 2011
Advokasi Anggaran Untuk Rakyat
Semua kita tentu memahami bahwa fungsi DPR atau DPRD dalam konteks Daerah adalah pertama fungsi legislasi, fungsi ini terimplementasi dalam membuat Peraturan Daerah. Kedua adalah fungsi anggaran, fungsi ini terimplementasi dalam menyusun dan menetapkan APBD. Dan yang ketiga adalah fungsi pengawasan, fungsi ini teraktualisasi dalam pengawasan terhadap, Peraturan Daerah, Keputusan Kepala yang telah ditetapkan oleh kepala Daerah.
Sepintas kita melihat fungsi DPRD diatas sungguh luar biasa, yang kalau saja fungsi-fungsi itu di berjalan dengan baik pasti akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan DPRD kita, khususnya Syakar A. Jangku, M.Si, Rusding,SE, dan H. Abdul Azis, S.Sos ?. Apakah mereka sudah menyerap aspiasi masyarakat, untuk kemdian di perjuangkan di Dewan ? Dan Seberapa besar alokasi anggaran yang mereka perjuangkan untuk kepentingan masyarakat ?. Terlalu subjektif kalau saya menjawab pertanyaan ini, saya yakin bahwa umat dan masyarakat Manggarai Barat mempunyai jawaban tersendiri atas pertanyaan di atas.
Dalam hemat saya, mengadvokasi anggaran untuk kepentingan masyarakat tidak hanya sebatas di forum sidang.Tapi ia di sosialisasikan, kemudian di kawal, diperjuangkan agar anggaran itu benar-benar di rasakan masyarakat. Tidak hanya sampai disitu, masyarakat juga di pahamkan cara-cara teknis untuk mengakses anggaran. Dan untuk kepentingan sosialisasi, semestinya dewan harus turun menyapa masyarakat lebih dekat. Masyarakat pasti menanti-nanti kehadiran mereka. Semestinya aleg kita menyadari juga bahwa, keberadaan mereka di Dewan merupakan representasi dari umat Islam Manggarai Barat. Baik buruknya kinerja mereka di Dewan itu akan berpengaruh besar terhadap umat dan masyarakat Manggarai Barat pada umumnya.
Sepintas kita melihat fungsi DPRD diatas sungguh luar biasa, yang kalau saja fungsi-fungsi itu di berjalan dengan baik pasti akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan DPRD kita, khususnya Syakar A. Jangku, M.Si, Rusding,SE, dan H. Abdul Azis, S.Sos ?. Apakah mereka sudah menyerap aspiasi masyarakat, untuk kemdian di perjuangkan di Dewan ? Dan Seberapa besar alokasi anggaran yang mereka perjuangkan untuk kepentingan masyarakat ?. Terlalu subjektif kalau saya menjawab pertanyaan ini, saya yakin bahwa umat dan masyarakat Manggarai Barat mempunyai jawaban tersendiri atas pertanyaan di atas.
Dalam hemat saya, mengadvokasi anggaran untuk kepentingan masyarakat tidak hanya sebatas di forum sidang.Tapi ia di sosialisasikan, kemudian di kawal, diperjuangkan agar anggaran itu benar-benar di rasakan masyarakat. Tidak hanya sampai disitu, masyarakat juga di pahamkan cara-cara teknis untuk mengakses anggaran. Dan untuk kepentingan sosialisasi, semestinya dewan harus turun menyapa masyarakat lebih dekat. Masyarakat pasti menanti-nanti kehadiran mereka. Semestinya aleg kita menyadari juga bahwa, keberadaan mereka di Dewan merupakan representasi dari umat Islam Manggarai Barat. Baik buruknya kinerja mereka di Dewan itu akan berpengaruh besar terhadap umat dan masyarakat Manggarai Barat pada umumnya.
Sabtu, 07 Mei 2011
Menang adalah Jembatan Untuk Memimpin
Harapan adalah sebuah cita-cita akan masa depan atau semacam impian yang ingin hendak diraih. Sementara kemenangan adalah sebuah rangkaian proses dari harapan yang ingin digapai. Umat Islam Manggarai Barat tentu memiliki harapan-harapan yang ingin digapai masa depan. Harapan-harapan itu adalah harapan-harapan kemenangan
dan memimpin.
Pemilu 2009 kemarin adalah isyarat awal kemenangan, bahwa umat Islam telah mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif. Meskipun angka tiga kursi itu adalah angka minimalis, yang bisa saja pada pemilu 2014 mendatang mengalami lompatan-lompatan besar, sehingga kader-kader Islam yang duduk dikursi legislatif pada pemilu mendatang mencapai satu fraksi. Satu fraksi adalah angka yang aman dan teramat berwibawa untuk umat Islam Manggarai Barat. Dan dengan satu fraksi ini pula umat Islam Manggarai Barat akan dapat mengusung sendiri pakat pada pemilukada 2015 mendatang. Sehingga Syndrom inferioritas yang kerap di alami umat Islam selama ini, akan hilang dengan sendirinya.
Persoalanya kemudian adalah bagaimana kita menang dalam pemilu legislatif hingga mencapai satu fraksi. Karana menang adalah jembatan untuk memimpin. Menurut Anis Matta, kemenangan adalah pertemuan antara harapan-harapan kita dengan kehendak Allah, atau dengan kata lain takdir kemenangan bukanlah menyerah tanpa usaha. Akan tetapi, takdir kemenangan itu harus terus di kawal. Ini artinya bahwa, ada teritorial-teritorial yang menjadi tugas kita umat islam Manggarai Barat untuk meraih kemenangan. Dan inilah yang kita katakan dengan usaha atau ikhtiar. Dan ada juga wilayah-wilayah yang merupakan hak tunggalnya Allah untuk menentukan kemenangan. Idealnya memang adalah setelah usaha-usaha kemenangan kita maksimalkan, maka selanjutnya adalah taqarub ilallah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.
Jika kita menang dalam pemilu legislatif 2014 dan mencapai satu fraksi. Dan dengan kemenangan itu kemudian kita bisa mengusung paket sendiri pada pemilukada 2015 mendatang. Lalu endingnya adalah kita menang dan memimpin. Inilah yang saya katakan kemenangan adalah jalan untuk memimpin. Dan inilah cita-cita besar atau harapan besar umat Islam Manggarai Barat yang hendak di gapai pada masa mendatang.
dan memimpin.
Pemilu 2009 kemarin adalah isyarat awal kemenangan, bahwa umat Islam telah mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif. Meskipun angka tiga kursi itu adalah angka minimalis, yang bisa saja pada pemilu 2014 mendatang mengalami lompatan-lompatan besar, sehingga kader-kader Islam yang duduk dikursi legislatif pada pemilu mendatang mencapai satu fraksi. Satu fraksi adalah angka yang aman dan teramat berwibawa untuk umat Islam Manggarai Barat. Dan dengan satu fraksi ini pula umat Islam Manggarai Barat akan dapat mengusung sendiri pakat pada pemilukada 2015 mendatang. Sehingga Syndrom inferioritas yang kerap di alami umat Islam selama ini, akan hilang dengan sendirinya.
Persoalanya kemudian adalah bagaimana kita menang dalam pemilu legislatif hingga mencapai satu fraksi. Karana menang adalah jembatan untuk memimpin. Menurut Anis Matta, kemenangan adalah pertemuan antara harapan-harapan kita dengan kehendak Allah, atau dengan kata lain takdir kemenangan bukanlah menyerah tanpa usaha. Akan tetapi, takdir kemenangan itu harus terus di kawal. Ini artinya bahwa, ada teritorial-teritorial yang menjadi tugas kita umat islam Manggarai Barat untuk meraih kemenangan. Dan inilah yang kita katakan dengan usaha atau ikhtiar. Dan ada juga wilayah-wilayah yang merupakan hak tunggalnya Allah untuk menentukan kemenangan. Idealnya memang adalah setelah usaha-usaha kemenangan kita maksimalkan, maka selanjutnya adalah taqarub ilallah. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.
Jika kita menang dalam pemilu legislatif 2014 dan mencapai satu fraksi. Dan dengan kemenangan itu kemudian kita bisa mengusung paket sendiri pada pemilukada 2015 mendatang. Lalu endingnya adalah kita menang dan memimpin. Inilah yang saya katakan kemenangan adalah jalan untuk memimpin. Dan inilah cita-cita besar atau harapan besar umat Islam Manggarai Barat yang hendak di gapai pada masa mendatang.
Karakter Pemimpin Manggarai Barat
Ketika kehadiran kita mampu memberikan harapan, disaat keberadaan kita mampu memberikan pelayanan. Dan, disaat kehadiran dan keberadaan kita dapat menjawab kebutuhan umat dengan kerja nyata tanpa pamrih dan basa-basi. Berbuat dan bekerja tanpa obral janji. Maka kitalah sebetulnya pemimpin itu. Pemimpin yang diharapkan dan di nanti-nantikan umat Islam Manggarai Barat. Itu bicara ideal, lalu petanyaannya kemudian adalah bagaiman dengan kindisi ril pemimpin umat di Manggarai Barat ? Akankah ada pemimpin yang ideal yang dihartapkan itu ?. Saya mungkin tidak terlampau jauh mendiskusikan hal itu, karena saya yakin bahwa, saya dan kita semua pasti mempunyai catatan-catatan pribadi mengenai pemimpin umat Manggarai Barat yang ada saat ini. Tapi, yang ingin saya ketengahkan untuk di diskusikan adalah, tipe pemimpin seperti apa yang di inginkan umat dan masyarakat Manggarai Barat ?
Pemimpin, dalam berbagai literatur menyebutnya tak ubahnya seoarang pelayan. Dan karena sebagai pelayan, ia harus mampu memeberikan harapan-harapan baru bagi yang dipimpinnya. Dan untuk memenuhi harapan-harapan itu, pemimpin umat dan masyarakat Manggarai Barat yang diharapkan adalah tidak hanya baik-baik tapi juga kuat-kuat. Ada banyak pemimpin yang hanif dan baik hati, tapi ia tidak cekatan dalam mengambil keputusan. Tidak sedikit kita jumpai pemimpin yang ramah dan dermawan, tapi ia lamban merespon persoalan masyarakat. Dan Pada saat yang sama, sering kita jumpai pemimpin yang cekatan, tegas dan berani mengambil keputusan, tapi ia tak ubahnya preman berdasi, berwatak mafia, KKN di sana-sini. Apa yang diharapkan dari pemimipin seperti ini, yang ada hanya memeras rakyat dengan menghalalkan segala cara.
Pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang padanya memiliki integritas intelektual, moral, spiritual dan emosinal. Ia rendah hati dan juga sederhana. Dan inilah yang saya katakan pemimpin yang baik-baik. Tapi juga kita butuh pemimpin yang cekatan, tegas, berani mengambil keputusan, ia bisa mendudukan persoalan, lalu kemudian dicarikan solusi yang kanstruktif. Dan inilah yang saya katakan pemimpin yang kuat-kuat. Keterpaduan antara yang baik-baik dan kuat-kuat inilah mungkin pemimpin yang dinanti-nantikan umat dan masyarakat Manggarai Barat. Kita semua tentu mempunyai peluang yang sama untuk itu. Tapi pertanyaannya adalah apakah tipe pemimpin seperti itu sudah ada dalam diri kita ? Wallahu’alam
Pemimpin, dalam berbagai literatur menyebutnya tak ubahnya seoarang pelayan. Dan karena sebagai pelayan, ia harus mampu memeberikan harapan-harapan baru bagi yang dipimpinnya. Dan untuk memenuhi harapan-harapan itu, pemimpin umat dan masyarakat Manggarai Barat yang diharapkan adalah tidak hanya baik-baik tapi juga kuat-kuat. Ada banyak pemimpin yang hanif dan baik hati, tapi ia tidak cekatan dalam mengambil keputusan. Tidak sedikit kita jumpai pemimpin yang ramah dan dermawan, tapi ia lamban merespon persoalan masyarakat. Dan Pada saat yang sama, sering kita jumpai pemimpin yang cekatan, tegas dan berani mengambil keputusan, tapi ia tak ubahnya preman berdasi, berwatak mafia, KKN di sana-sini. Apa yang diharapkan dari pemimipin seperti ini, yang ada hanya memeras rakyat dengan menghalalkan segala cara.
Pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang padanya memiliki integritas intelektual, moral, spiritual dan emosinal. Ia rendah hati dan juga sederhana. Dan inilah yang saya katakan pemimpin yang baik-baik. Tapi juga kita butuh pemimpin yang cekatan, tegas, berani mengambil keputusan, ia bisa mendudukan persoalan, lalu kemudian dicarikan solusi yang kanstruktif. Dan inilah yang saya katakan pemimpin yang kuat-kuat. Keterpaduan antara yang baik-baik dan kuat-kuat inilah mungkin pemimpin yang dinanti-nantikan umat dan masyarakat Manggarai Barat. Kita semua tentu mempunyai peluang yang sama untuk itu. Tapi pertanyaannya adalah apakah tipe pemimpin seperti itu sudah ada dalam diri kita ? Wallahu’alam
Selasa, 26 April 2011
Penyangga Kekuasaan
Jika Allah mentakdirkan kita menang. Lalu kemudian memimpin dan melayani umat dan masyarakat Manggarai Barat. Lalu pertanyaanya kemudian adalah apakah kemudian persoalan kita selesai?. Jawabanya tidak. Justru kita menang dan memimpin persoalan akan semakin rumit dan kompleks. Karena semakin tinggi pohon menjulang ke langit, semakin besar pula peluang untuk diterpa angin. Ada begitu banyak dinamika yang kita hadapi, yang kalau tidak diantisipasi sejak dini, persoalanya akan membias dan membesar. Kita mungkin efuria dengan kemenangan. Tapi apa ia, efuria itu sejalan dengan profesionalitas kinerja kita. Jika ia tidak sejalan, tepatlah yang di katakan Anis Matta, “kadang jabatan-jabatan besar akan meruntuhkan harga diri kita, wibawa dan kerhotaman kita. Manakala jabatan-jabatan besar itu, tidak sepadan dengan kemampuan yang kita miliki.”
Kita mungkin kelabakan, seandainya paket perpaduan Anton Bagul dan H. Abdul Azis pada pemilukada kemarin mulus laju menuju tahta kekuasaan. Kelabakan karena mungkin suporting sistem kekuasaan kita lemah. Atau kelabakan karena penyangga kemenangan kita tidak kuat. Mestinya juga kita bertanya, ada berapa kader muslim yang kini menduduki jabatan struktural di lingkup SKPD Manggarai Barat ? ada berapa kader muslim yang eselon I, eselon II dan seterusnya ? dari semua itu, ada berapa kader muslim yang memiliki kualifikasi administrasi dan kompetensi untuk menjadi kepala dinas, kepala bidang dan kepala seksi ?. Hal-hal seperti inilah yang saya maksudkan dengan penyangga kemenangan atau suporting kekuasaan. Dan ini penting bagi kita, jika kita ingin menang dan memimpin.
Musuh dalam selimut, atau seperti duri dalam daging. Adalah mungkin kata-kata yang tepat jika tidak adanya keterpaduan antara kekuasaan dan penyangga kekuasaan (tidak adanya keterpaduan antara ekskutif dengan SKPD). Kekuasaan itu akan langgeng dan kuat, jika ia di topang oleh penyangga yang kuat juga. Ia akan menjadi bumerang dan akan merong-rong kekuasaan jika tidak ada keselarsan kata dan langkah antara ekskutif dan SKPD. Ada banyak pemimpin di negeri ini yang jatuh karena ulah bawahannya. Gusdur lengser dari tampuk kekuasaan karena penyangga kekuasaanya tidak kuat. Ia sering gonta-ganti menteri.
Dalam hemat saya, proses PNS sisasi kader muslim mungkin merupakan salah satu langkah yang cerdas, sebagai upaya mengisi kekosongan kader muslim di birokrasi. Dan bagi kader muslim yang kini duduk di birokrasi, harus sadar bahwa kebereadaan mereka adalah representasi dari umat. Dan karenanya mereka harus mengedapankan asas profesionalisme dalam bekerja. Serta tidak bertekuk lutut pada harta dan haus akan kekuasaan. Semua kita tentu ingin menang dan memimpin dengan cara-cara yang layak dan berwibawa. Tentu ini akan terwujud jika kita memiliki penyangga kekuasaan yang kuat dan suporting sistem kemenangan yang kuat pula. Biarlah kelak rakyat Manggarai Barat akan mengatakan “Mereka memang layak untuk Memimpin”.
Kita mungkin kelabakan, seandainya paket perpaduan Anton Bagul dan H. Abdul Azis pada pemilukada kemarin mulus laju menuju tahta kekuasaan. Kelabakan karena mungkin suporting sistem kekuasaan kita lemah. Atau kelabakan karena penyangga kemenangan kita tidak kuat. Mestinya juga kita bertanya, ada berapa kader muslim yang kini menduduki jabatan struktural di lingkup SKPD Manggarai Barat ? ada berapa kader muslim yang eselon I, eselon II dan seterusnya ? dari semua itu, ada berapa kader muslim yang memiliki kualifikasi administrasi dan kompetensi untuk menjadi kepala dinas, kepala bidang dan kepala seksi ?. Hal-hal seperti inilah yang saya maksudkan dengan penyangga kemenangan atau suporting kekuasaan. Dan ini penting bagi kita, jika kita ingin menang dan memimpin.
Musuh dalam selimut, atau seperti duri dalam daging. Adalah mungkin kata-kata yang tepat jika tidak adanya keterpaduan antara kekuasaan dan penyangga kekuasaan (tidak adanya keterpaduan antara ekskutif dengan SKPD). Kekuasaan itu akan langgeng dan kuat, jika ia di topang oleh penyangga yang kuat juga. Ia akan menjadi bumerang dan akan merong-rong kekuasaan jika tidak ada keselarsan kata dan langkah antara ekskutif dan SKPD. Ada banyak pemimpin di negeri ini yang jatuh karena ulah bawahannya. Gusdur lengser dari tampuk kekuasaan karena penyangga kekuasaanya tidak kuat. Ia sering gonta-ganti menteri.
Dalam hemat saya, proses PNS sisasi kader muslim mungkin merupakan salah satu langkah yang cerdas, sebagai upaya mengisi kekosongan kader muslim di birokrasi. Dan bagi kader muslim yang kini duduk di birokrasi, harus sadar bahwa kebereadaan mereka adalah representasi dari umat. Dan karenanya mereka harus mengedapankan asas profesionalisme dalam bekerja. Serta tidak bertekuk lutut pada harta dan haus akan kekuasaan. Semua kita tentu ingin menang dan memimpin dengan cara-cara yang layak dan berwibawa. Tentu ini akan terwujud jika kita memiliki penyangga kekuasaan yang kuat dan suporting sistem kemenangan yang kuat pula. Biarlah kelak rakyat Manggarai Barat akan mengatakan “Mereka memang layak untuk Memimpin”.
Rabu, 30 Maret 2011
Ketika Pemimpin Bermodalkan Nekat dan Finansial
Persoalan kita kedepan adalah, tidak hanya bagaimana kita menang dalam pemilu legislatif pada 2014 mendatang, karena ia hanya bersifat teknis. Tapi yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita memimpin, dan ini lebih bersifat strategis. Kasus pemilukada 2010 kemarin, cukup memberikan kita pelajaran berharga, bahwa untuk memimpin tidak hanya bermodalkan nekat dan didukung finansial yang kuat. Nekat, memiliki finansial yang kuat adalah merupakan perangkat-perangkat kemenangan, tapi ia bukan merupakan satu-satunya. Masih banyak perangkat-perangkat lain yang mesti dimiliki oleh calon pemimpin umat.
Berbicara masalah pemimpin, tentu tidak terlepas dari berbicara mengenai kapasitas, kompetensi dan integritas. Kapasitas, kompetensi dan integritas inilah kemudian yang akan menjadi daya ungkit dukungan publik. Tentu ini adalah modal dasar seorang calon pemimpin yang akan memimpin umat Manggarai Barat. Setelah modal dasar ini dimiliki, barulah kemudian kita berbicara dan berdiskusi tentang bagaimana merekayasa kemenangan. Merekayasa kemenangan tentu tidak terlepas dari dilakukannya analisis SWOT. Sehingga dengan analisis SWOT kita akan dapat mengetahui, kelemehan-kelemahan kita, kekuatan-kekutan kita, tantangan-tantangan kita dan yang tak kalah pentingnya adalah peluang-peluang kemenangan kita. Setelah ini tuntas dilakukan, maka langkah berikutnya yang kita lakukan adalah merumuskan visi misi kemenangan.
Dalam hemat saya, Secara psikolgis kondisi kejiwaan ummat pada pemilukada kemarin nampaknya benar-benar belum siap. Ini bisa dan dapat dilihat dari respon umat ketika PKS dan PBB plus PDS mengusung paket perpaduan, Anton Bagul dan H. Asis. Respon-respon umat tentang paket perpaduan terlihat cukup variatif. Ada yang mengatakan belum saatnya umat Islam menjadi pemimpin di daerah ini, ada juga yang mengatakan paket perpaduan yang diusung memiliki masa lalu yang kelam atau cacat politik. Atau mungkin ada yang jauh lebih ekstrim mengatakan bahwa, Haji Abdul Asis belum memiliki kapasitas, kompetensi dan integritas sebagai modal dasar seorang calon pemimpin. Karena ia adalah kader karbitan, yang minim pengalaman dan miskin intelektual.
Kalau dilihat dari respon-respon umat tersebut diatas, sampailah kita pada hipotesa bahwa, umat Islam Manggarai Barat benar-benar belum memahami pentingnya kepemimpinan umat atau belum menyadari bahwa keterwakilan umat pada lembaga ekskutif adalah keniscayaan. Tapi, satu hal yang kita apresiasi kepada Haji Asis adalah bahwa, ia telah memulai peran sejarah itu. Dan ini akan berdampak besar pada konstalasi politik pada pemilukada-pemilukada mendatang.
Berbicara masalah pemimpin, tentu tidak terlepas dari berbicara mengenai kapasitas, kompetensi dan integritas. Kapasitas, kompetensi dan integritas inilah kemudian yang akan menjadi daya ungkit dukungan publik. Tentu ini adalah modal dasar seorang calon pemimpin yang akan memimpin umat Manggarai Barat. Setelah modal dasar ini dimiliki, barulah kemudian kita berbicara dan berdiskusi tentang bagaimana merekayasa kemenangan. Merekayasa kemenangan tentu tidak terlepas dari dilakukannya analisis SWOT. Sehingga dengan analisis SWOT kita akan dapat mengetahui, kelemehan-kelemahan kita, kekuatan-kekutan kita, tantangan-tantangan kita dan yang tak kalah pentingnya adalah peluang-peluang kemenangan kita. Setelah ini tuntas dilakukan, maka langkah berikutnya yang kita lakukan adalah merumuskan visi misi kemenangan.
Dalam hemat saya, Secara psikolgis kondisi kejiwaan ummat pada pemilukada kemarin nampaknya benar-benar belum siap. Ini bisa dan dapat dilihat dari respon umat ketika PKS dan PBB plus PDS mengusung paket perpaduan, Anton Bagul dan H. Asis. Respon-respon umat tentang paket perpaduan terlihat cukup variatif. Ada yang mengatakan belum saatnya umat Islam menjadi pemimpin di daerah ini, ada juga yang mengatakan paket perpaduan yang diusung memiliki masa lalu yang kelam atau cacat politik. Atau mungkin ada yang jauh lebih ekstrim mengatakan bahwa, Haji Abdul Asis belum memiliki kapasitas, kompetensi dan integritas sebagai modal dasar seorang calon pemimpin. Karena ia adalah kader karbitan, yang minim pengalaman dan miskin intelektual.
Kalau dilihat dari respon-respon umat tersebut diatas, sampailah kita pada hipotesa bahwa, umat Islam Manggarai Barat benar-benar belum memahami pentingnya kepemimpinan umat atau belum menyadari bahwa keterwakilan umat pada lembaga ekskutif adalah keniscayaan. Tapi, satu hal yang kita apresiasi kepada Haji Asis adalah bahwa, ia telah memulai peran sejarah itu. Dan ini akan berdampak besar pada konstalasi politik pada pemilukada-pemilukada mendatang.
Selasa, 08 Februari 2011
Peran Intelektual Tokoh Islam Perantauan MABAR
Membangun daerah dan umat tidak mesti harus berada di daerah atau bahkan berada di tengah-tengah ummat. Ia juga bisa di lakukan oleh tokoh-tokoh ummat yang kini berada di perantuan. Peran-peran intelektual mereka, pemikiran-pemikiran mereka sangat di harapkan oleh umat di daerah. Ada begitu banyak tokoh-tokoh Islam potensial Manggarai Barat yang kini tengah berada di perantuan yang belum dimaksimalkan kontribusinya untuk membangun umat di daerah. Lemahnya peran-peran tokoh perantuan untuk membangun umat disebabkan adanya sumbatan komunikasi antara mereka dengan tokoh-tokoh Islam yang ada didaerah. Disconecting komunikasi ini lebih disebabkan karena adanya ego pribadi dan ego sektoral dari tokoh-tokoh yang ada didaerah. Dan ego pribadi dan ego sektoral ini dalam pandangan saya disebabkan lemahanya ukhuwah dan silaturahim antara tokoh-tokoh tersebut.
Dalam konteks politik juga misalnya, nyaris tidak adanya komunikasi yang intensif antara tokoh-tokoh perantuan dengan partai-partai Islam yang ada di daerah. Kalaupun ada, itu hanya di lakukan menjelang pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah. Padahal idelanya komunikasi yang dibangun adalah bukan bersifat temporal dan sesaat, tapi ia lebih bersifat permanen dan berkesinambungan. Kondisi inilah yang menyebabkan lemahnya sharing ide-ide, sharing gagasan-gagasan, dan sharing langkah-langkah strategis dan teknis untuk menginventarisir persoalan umat untuk kemudian di carikan langkah-langkah solutif yang konstruktif.
Cita-cita besar untuk menghantarkan kader muslim untuk duduk di kursi legislatif dan ekskutif di daerah akan menjadi diskusi kusir, perbincangan sia-sia dan dan tak bermanfaat, jika tokoh perantauan, tokoh masyarakat di daerah dan partai islam sebagai kendaraaan politik tidak pernah melakukan sharing ide-ide, sharing gagasan-gagasan dan sharing pengetahuan untuk membangun ummat. Saya, dan semua kita tentu berharap bahwa tiga simpul kekuatan ummat tersebut dari sekarang harus membangun komunikasi yang intesif dan berkelanjutan.
Kalau sudah ada kesamaan pandangan, persamaan persepsi dalam memandang persoalan umat dari tokoh perantau, tokoh yang ada daerah dan partai Islam. Maka langkah selanjutnya yang mesti di lakukan adalah mensosialisasikan kesamaan pandangan, persamaan persepsi tersebut kepada umat. Dan sarana yang paling efektif yang diharapkan untuk mensosialisasikannya adalah peran-peran lembaga-lembaga Islam, seperti MUI, LPTQ, ormas-ormas Islam dan seterusnya. Dan kalau tokoh-tokoh umat dan partai Islam sudah duduk bersama dan seia sekata, maka yakinlah bahwa umat pada tataran grass root hanya mengamininya saja. Dan ini lah yang kita katakan perubahan dengan pola pendekatan top-down.
Dalam konteks politik juga misalnya, nyaris tidak adanya komunikasi yang intensif antara tokoh-tokoh perantuan dengan partai-partai Islam yang ada di daerah. Kalaupun ada, itu hanya di lakukan menjelang pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah. Padahal idelanya komunikasi yang dibangun adalah bukan bersifat temporal dan sesaat, tapi ia lebih bersifat permanen dan berkesinambungan. Kondisi inilah yang menyebabkan lemahnya sharing ide-ide, sharing gagasan-gagasan, dan sharing langkah-langkah strategis dan teknis untuk menginventarisir persoalan umat untuk kemudian di carikan langkah-langkah solutif yang konstruktif.
Cita-cita besar untuk menghantarkan kader muslim untuk duduk di kursi legislatif dan ekskutif di daerah akan menjadi diskusi kusir, perbincangan sia-sia dan dan tak bermanfaat, jika tokoh perantauan, tokoh masyarakat di daerah dan partai islam sebagai kendaraaan politik tidak pernah melakukan sharing ide-ide, sharing gagasan-gagasan dan sharing pengetahuan untuk membangun ummat. Saya, dan semua kita tentu berharap bahwa tiga simpul kekuatan ummat tersebut dari sekarang harus membangun komunikasi yang intesif dan berkelanjutan.
Kalau sudah ada kesamaan pandangan, persamaan persepsi dalam memandang persoalan umat dari tokoh perantau, tokoh yang ada daerah dan partai Islam. Maka langkah selanjutnya yang mesti di lakukan adalah mensosialisasikan kesamaan pandangan, persamaan persepsi tersebut kepada umat. Dan sarana yang paling efektif yang diharapkan untuk mensosialisasikannya adalah peran-peran lembaga-lembaga Islam, seperti MUI, LPTQ, ormas-ormas Islam dan seterusnya. Dan kalau tokoh-tokoh umat dan partai Islam sudah duduk bersama dan seia sekata, maka yakinlah bahwa umat pada tataran grass root hanya mengamininya saja. Dan ini lah yang kita katakan perubahan dengan pola pendekatan top-down.
Rabu, 02 Februari 2011
Motivasi Mereka Menjadi Aleg
Menjadi Anggota Legislatif (Aleg) nampaknya menjadi dambaan semua orang. Karena begitu banyak fasilitas negera yang diberikan kepadanya. Sehingga tidak heran, ada ratusan bahkan ribuan orang calon orang-orang terhormat tersebut mendaftar pada setiap pemilihan umum. Merekapun hadir dalam pentas kompetisi setiap pemilihan umum dengan disiplin ilmu dan latar belakang pengetahuan yang berbeda-beda. Dan dari setiap mereka memiliki motivasi yang bervariasi, ada motivasinya ingin menjadi orang terhormat, ingin dikenal orang, menjadi figur publik. Ada juga yang motivasinya untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin, memperkaya diri, keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Saya mempunyai keyakinan yang cukup kuat bahwa, pada saat yang sama masih ada juga orang yang memiliki niat yang baik, komitmen yang luhur untuk menjadi Aleg. Bagi mereka menjadi Aleg adalah tugas mulia dan amanah rakyat yang tidak hanya di pertanggung jawabkan kehadapan rakyat, tapi ia juga akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Orang-orang seperti inilah yang memahami betul apa tugas dan fungsinya sebagai Aleg ketika kelak mereka terpilih.
Ini adalah cerita tentang mereka-meraka yang ingin menjadi Aleg atau cerita mereka-mereka yang belum menduduki kursi panas. Bagi mereka-mereka yang motivasinya harta dan kekuasaan tentu sudah layu sebelum layar terkembang. Dan bisa ditebak, kelak ketika mereka menjadi orang terhormat tidak akan pernah memikirkan rakyat. Tapi bagi mereka yang niatnya baik dan benar, tentu idealita intelektulanya belum teruji menyapa masyarakat dengan realitas intelektualnya. Bisa saja idealismenya tegar bagai karang yang tak terpecahkan gelombang. Atau bisa saja idealismenya terhempas gelombang harta dan kekuasaan.
Lalu bagaimana dengan Aleg kita sekarang, khusunya kader-kader Muslim yang kini diamanahi menjadi Aleg. Akankah mereka terus memperjuangakn kepentingan umat ?. Akankah idealismenya mengakar kuat dalam detak nafas perjuangan mereka ? Ataukah idealisme mereka tenggelam ditelan harta dan kekuasaan. Saya, dan kita semua tentu berharap dan menaruh harapan besar kepada meraka agar mereka terus menyuarakan aspirasi umat, meskipun tantangan yang mereka hadapi teramat berat. Teriring doa kita terus lantunkan, kiranya idealisme mereka tidak luntur lantaran tergoda harta, tahta apa lagi wanita.
Saya mempunyai keyakinan yang cukup kuat bahwa, pada saat yang sama masih ada juga orang yang memiliki niat yang baik, komitmen yang luhur untuk menjadi Aleg. Bagi mereka menjadi Aleg adalah tugas mulia dan amanah rakyat yang tidak hanya di pertanggung jawabkan kehadapan rakyat, tapi ia juga akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Orang-orang seperti inilah yang memahami betul apa tugas dan fungsinya sebagai Aleg ketika kelak mereka terpilih.
Ini adalah cerita tentang mereka-meraka yang ingin menjadi Aleg atau cerita mereka-mereka yang belum menduduki kursi panas. Bagi mereka-mereka yang motivasinya harta dan kekuasaan tentu sudah layu sebelum layar terkembang. Dan bisa ditebak, kelak ketika mereka menjadi orang terhormat tidak akan pernah memikirkan rakyat. Tapi bagi mereka yang niatnya baik dan benar, tentu idealita intelektulanya belum teruji menyapa masyarakat dengan realitas intelektualnya. Bisa saja idealismenya tegar bagai karang yang tak terpecahkan gelombang. Atau bisa saja idealismenya terhempas gelombang harta dan kekuasaan.
Lalu bagaimana dengan Aleg kita sekarang, khusunya kader-kader Muslim yang kini diamanahi menjadi Aleg. Akankah mereka terus memperjuangakn kepentingan umat ?. Akankah idealismenya mengakar kuat dalam detak nafas perjuangan mereka ? Ataukah idealisme mereka tenggelam ditelan harta dan kekuasaan. Saya, dan kita semua tentu berharap dan menaruh harapan besar kepada meraka agar mereka terus menyuarakan aspirasi umat, meskipun tantangan yang mereka hadapi teramat berat. Teriring doa kita terus lantunkan, kiranya idealisme mereka tidak luntur lantaran tergoda harta, tahta apa lagi wanita.
Minggu, 30 Januari 2011
Kualitas Partai Politik
Kualitas Partai Politik dalam hemat saya setidaknya di tentukan oleh beberapa factor, diantaranya adalah kualitas sumber daya yang ada dalam partai, manajemen organisasi yang baik, pola kaderisasi yang rapi dan program-program partai yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dan dari semua itu, factor kekompakan, kebersamaan dari kader partai juga dapat menjadi indicator eksisnya sebuah partai. Karena hanya dengan kekompakan dan kebresamaan mesin partai akan dapat berjalan dengan baik untuk mengekskusi semua program-program partai.
Factor-faktor inilah yang kemudian dalam pandangan saya partai politik akan menuai simpati public. Tidak hanya itu, factor Integritas moral kader partai juga menjadi daya ungkit simpati public. Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik lebih di sebabkan karena kurangnya integritas moral dan tidak adanya keselarasan kata dan perbuatan dari kader partai, terutama mereka yang kini duduk di kursi legislative. Dalam banyak kasus misalnya, ada banyak kader partai yang ketika belum menjadi anggota DPRD terus menyapa rakyat dengan mengumbar banyak janji. Namun setelah mereka menjadi orang terhormat, janji manis tinggal kenangan. Dan inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.
Lalu bagaimana dengan Partai Islam di Manggarai Barat ?. Akankah sumber daya partai Islam mampu menyuarakan aspirasi umat? Atau bisa saja pertanyaan ini menukik lebih jauh, akankah ada keselarasan kata dan perbuatan dari kader partai Islam, terutama mereka yang kini di wakili oleh Syakar A. Jangku, M.Si, Rusding, SE dari PKS dan H. Abdul Asis, S.Sos dar PBB yang kini di amanahi jadi anggota DPRD ? Untuk menjawab pertanyaan ini, nampaknya terlalu subjektif kalau saya jelaskan di sini. Tapi satu hal yang pasti bahwa saya, dan kita semua mempunyai penilaian yang berbeda-beda tentang hal ini.
Disinilah sebetulnya peran partai politik khususnya Partai Islam di Manggarai Barat, untuk terus melakukan pembinaan yang intensif terhadap kadernya dengan mengikuti pola kaderisasi yang berkesinambungan. Sumbatan kaderisasi inilah kemudian akan melahirkan politisi-politisi karbitan yang tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan umat. Saya dan kita semua tentu berharap bahwa tiga partai Islam di Manggarai Barat PKS, PBB dan PPP memiliki kualifikasi-kualifikasi standart sebagai partai yang berkualitas. Tentu, ini akan dapat terwujud jika tidak adanya perpecahan di internal partai Islam tersebut.
Factor-faktor inilah yang kemudian dalam pandangan saya partai politik akan menuai simpati public. Tidak hanya itu, factor Integritas moral kader partai juga menjadi daya ungkit simpati public. Kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik lebih di sebabkan karena kurangnya integritas moral dan tidak adanya keselarasan kata dan perbuatan dari kader partai, terutama mereka yang kini duduk di kursi legislative. Dalam banyak kasus misalnya, ada banyak kader partai yang ketika belum menjadi anggota DPRD terus menyapa rakyat dengan mengumbar banyak janji. Namun setelah mereka menjadi orang terhormat, janji manis tinggal kenangan. Dan inilah yang menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.
Lalu bagaimana dengan Partai Islam di Manggarai Barat ?. Akankah sumber daya partai Islam mampu menyuarakan aspirasi umat? Atau bisa saja pertanyaan ini menukik lebih jauh, akankah ada keselarasan kata dan perbuatan dari kader partai Islam, terutama mereka yang kini di wakili oleh Syakar A. Jangku, M.Si, Rusding, SE dari PKS dan H. Abdul Asis, S.Sos dar PBB yang kini di amanahi jadi anggota DPRD ? Untuk menjawab pertanyaan ini, nampaknya terlalu subjektif kalau saya jelaskan di sini. Tapi satu hal yang pasti bahwa saya, dan kita semua mempunyai penilaian yang berbeda-beda tentang hal ini.
Disinilah sebetulnya peran partai politik khususnya Partai Islam di Manggarai Barat, untuk terus melakukan pembinaan yang intensif terhadap kadernya dengan mengikuti pola kaderisasi yang berkesinambungan. Sumbatan kaderisasi inilah kemudian akan melahirkan politisi-politisi karbitan yang tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan umat. Saya dan kita semua tentu berharap bahwa tiga partai Islam di Manggarai Barat PKS, PBB dan PPP memiliki kualifikasi-kualifikasi standart sebagai partai yang berkualitas. Tentu, ini akan dapat terwujud jika tidak adanya perpecahan di internal partai Islam tersebut.
Jumat, 21 Januari 2011
Pendekatan Perubahan
Dalam berbagai literature perubahan menyebutkan setidaknya perubahan bermula dari perubahan induvidu. Dalam bahasa yang sangat sederhana AA Gym memformulasikannya dengan konsep 3 M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal terkecil dan Mulai saat ini, (Q.S. Ar-Ra’d : 11). Jika perubahan-perubahan induvidu terwujud, maka yakinlah bahwa ia akan berputar kencang menuju perubahan-perubahan social. Atau perubahan itu berawal dari transformasi diri lalu kemudian mewujud menjadi tranformasi kolektif.
Untuk merealisasikan perubahan-perubahan dimaksud juga harus memiliki metodelogi dan pendekatan-pendekatan yang tepat. Sehingga perubahan yang diharapkan dapat berimplikasi pada terbentuknya masyarakat madani atau civil society. Masyarakat madani yang didambakan adalah masyarakat yang berperadaban tinggi, yang berbasis pada nilai, etika dan religiusitas. Dalam hemat saya setidaknya ada dua pendekatan perubahan yang mesti dilakukan untuk mencapai masyarakat madani tersebut. Pertama adalah pendekatan cultural dan yang kedua adalah pendekatan structural.
Dalam konteks umat Islam Manggarai Barat, nampaknya pola pendekatan perubahan diatas masih sangat relevan dengan kondisi umat yang belum menemukan format yang ideal untuk membangaun kebersamaan. Pendekatan perubahan itu juga setidaknya harus menjadi wacana dan bahan diskusi untuk mengekskusi proyek persatuan umat.
Pendekatan cultural dapat dilakukan dengan penyebaran kader ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Kehadiran mereka ditengah masyarakat diharapkan mampu menjadi perekat dan pemersatu umat. Mereka bukan bicara perbedaan, tapi mereka terus bicara tentang kebersamaan. Dan Mereka terus memberikan pendidikan politik tentang pentinganya kebersamaan dan persatuan umat. Pendekatan perubahan cultural bisa dilakukan secara individu dan juga bisa di lakukan melalui lembaga-lemabaga keumatan, yayasan dan ormas. Secara individu dapat dilakukan oleh tokoh agama, tokoh adat, khatib, dan imam-imam masjid. Sementara secara lembaga bisa di lakukan oleh MUI, LPTQ, lembaga pendidikan, yayasan dan ormas. Perubahan yang diharapkan dari pendekatan cultural adalah bottom-up.
Pendekatan structural dilakukan dengan penyebaran kader umat kedalam lembaga formal seperti legislative dan ekskutif dan sector-sektor lain dalam melayani, membangun dan memimpin umat melalui mekanisme konstitusinal. Tujuan keberadaan kader umat dalam lembaga-lembaga dimaksud adalah untuk turut berkontribusi dalam membangun system, membuat kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umat. Disamping itu, keberadaan kader umat pada lembaga-lembaga formal tersbut diharapkan mampu mengadvokasi dan mengawal anggaran yang berpihak kepada kepentingan umat. Perubahan yang diharapkan dari pendekatan structural adalah top-down
Kalau saja semua elemen umat Islam Manggarai Barat bekerja menurut bidangnya masing-masing. Dan mereka bekerja untuk sebuah proyek persatuan umat dan tidak merasa bahwa dirinyalah yang paling berperan dalam membangun kebersamaan yakinlah bahwa, cita-cita yang diharapkan kita semua akan lebih cepat terwujud.
Untuk merealisasikan perubahan-perubahan dimaksud juga harus memiliki metodelogi dan pendekatan-pendekatan yang tepat. Sehingga perubahan yang diharapkan dapat berimplikasi pada terbentuknya masyarakat madani atau civil society. Masyarakat madani yang didambakan adalah masyarakat yang berperadaban tinggi, yang berbasis pada nilai, etika dan religiusitas. Dalam hemat saya setidaknya ada dua pendekatan perubahan yang mesti dilakukan untuk mencapai masyarakat madani tersebut. Pertama adalah pendekatan cultural dan yang kedua adalah pendekatan structural.
Dalam konteks umat Islam Manggarai Barat, nampaknya pola pendekatan perubahan diatas masih sangat relevan dengan kondisi umat yang belum menemukan format yang ideal untuk membangaun kebersamaan. Pendekatan perubahan itu juga setidaknya harus menjadi wacana dan bahan diskusi untuk mengekskusi proyek persatuan umat.
Pendekatan cultural dapat dilakukan dengan penyebaran kader ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Kehadiran mereka ditengah masyarakat diharapkan mampu menjadi perekat dan pemersatu umat. Mereka bukan bicara perbedaan, tapi mereka terus bicara tentang kebersamaan. Dan Mereka terus memberikan pendidikan politik tentang pentinganya kebersamaan dan persatuan umat. Pendekatan perubahan cultural bisa dilakukan secara individu dan juga bisa di lakukan melalui lembaga-lemabaga keumatan, yayasan dan ormas. Secara individu dapat dilakukan oleh tokoh agama, tokoh adat, khatib, dan imam-imam masjid. Sementara secara lembaga bisa di lakukan oleh MUI, LPTQ, lembaga pendidikan, yayasan dan ormas. Perubahan yang diharapkan dari pendekatan cultural adalah bottom-up.
Pendekatan structural dilakukan dengan penyebaran kader umat kedalam lembaga formal seperti legislative dan ekskutif dan sector-sektor lain dalam melayani, membangun dan memimpin umat melalui mekanisme konstitusinal. Tujuan keberadaan kader umat dalam lembaga-lembaga dimaksud adalah untuk turut berkontribusi dalam membangun system, membuat kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umat. Disamping itu, keberadaan kader umat pada lembaga-lembaga formal tersbut diharapkan mampu mengadvokasi dan mengawal anggaran yang berpihak kepada kepentingan umat. Perubahan yang diharapkan dari pendekatan structural adalah top-down
Kalau saja semua elemen umat Islam Manggarai Barat bekerja menurut bidangnya masing-masing. Dan mereka bekerja untuk sebuah proyek persatuan umat dan tidak merasa bahwa dirinyalah yang paling berperan dalam membangun kebersamaan yakinlah bahwa, cita-cita yang diharapkan kita semua akan lebih cepat terwujud.
Selasa, 21 Desember 2010
Renstra PKS Manggarai Barat
Musyawarah Daerah ke -2 Partai Keadilan Sejahtera sudah usai. Akan tetapi, bagi PKS MUSDA bukanlah ajang untuk bermewah-mewah ataupun berpesta pora. Dari MUSDA kita akan merencanakan dakwah kita untuk lima tahun kedepan, mengevaluasi kerja-kerja apa yang sudah kita lakukan sebelumnya. Sekaligus menetapkan target-target internal maupun eksternal hingga tahun 2015. Rencana Staregeis kemudian kita sebut dengan Renstra mempunyai arti penting bagi sebuah gerakan dakwah. Ia adalah harapan, mimpi kita masa depan atau semacam bayangan hasil yang ingin kita capai di masa mendatang. Tanpa renstra , para kader partai pada semua level struktur akan bingung dan bertanta-tanya “kita hendak ke mana ?. Jadi, dengan menetapkan renstra ini, kita memiliki arah yang jelas, semacam kompas penunjuk arah terhadap sasaran yang hendak dicapai.
Setidaknya PKS Manggarai Barat, memiliki dua Renstra besar atau cita-cita besar yang hendak di capai. Ia adalah cita-cita Dakwah dan cita-cita Politik. Pertama cita-cita dakwah, PKS bukan sekedar partai politik an sich. Akan tetapi, pada saat yang sama ia juga adalah partai dakwah, di mana ruang lingkup gerakannya lebih luas dari sekedar partai politik. Dakwah pada hakekatnya adalah mengajak manusia untuk berbuat baik, serta berupaya semaksimal mungkin untuk mencegahnya dari perbuatan tidak baik. Hasil dari dakwah itu diharapkan akan terbentuk keshalehan individu dan pada gilirannya akan terbentuk keshalehan sosial. Atau ada semacam perubahan dari kebaikan perseorangan menjadi kebaikan kolektif . Namun demikian, untuk mewujudkan perubahan dimaksud, kita harus memiliki kemauan yang kuat untuk mengekskusi dakwah itu dalam tindakan nyata. Dan yang harus di pahami oleh semua kader PKS pada semua level struktur adalah bahwa, bagi PKS berpolitik adalah dalam rangka menunjang ibadah kita kepada Allah SWT. Dan dalam ibadah, yang paling penting bukanlah hasil yang ingin di dapatkan, melainkan pada proses yang kita jalani apakah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya atau tidak.
Kedua adalah cita-cita politik. Amanat Muswil ke-2 PKS NTT, dan diperkuat dengan rekomendasi politik PKS Manggarai Barat pada MUSDA beberap waktu lalu, PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan 3 kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif pada pemilu 2014 mendatang. Cita-cita itu mungkin sedikit ambisius, atau mungkin saja ia merupakan cita-cita yang teramat realistis. Terlalu ambisius karena memang mesin partai selama ini, tidak dapat bekerja maksimal, ia hanya bekerja menjelang suksesi pemilu dan pemilukada. Pemberdayaan struktrur dan penguatan basis massa masih jauh dari ideal. Cita-cita itu juga bisa di katakan realistis bahkan sangat teramat realistis, karena memang jumlah wajib pilih muslim di Manggarai Barat hampir 22.000, dan idealnya memang dari jumlah wajib pilih itu, umat Islam mampu menghantarkan 6 atau 7 kader terbaiknya untuk duduk di kursi DPRD. Persoalannya kemudian adalah berapa jatah PKS dari jumlah kursi itu ?.
Untuk menunjang dua cita-cita besar di atas, setidaknya PKS Manggarai Barat harus membangun organisasi dakwah yang kuat dan profesional sebagai tulang punggung dakwah , dan juga membangun basis politik yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung partai. Kalau dakwah bersifat elitis-eksklusif maka basis poltik bersifat masif dan terbuka. Kalau basis dakwah berorentasi pada kualitas maka basis politik berorentasi pada kuantitas. Kalau dakwah dibentuk melalui rekrutmen kader yang selektif, maka basis politik dibentuk melalui opini publik. Kalau kader dakwah di bentuk melalui tarbiyah dan proses pengkaderan yang matang maka basis politik di bentuk melalui media massa dan tokoh publik. Begitulah menciptkan sinergi antara dakwah dan politik, antara kualitas dan kuantitas. Keduanya mempunyai peran yang sama-sama strategis
Dan oleh karenanya, indikator keberhasilan dari dua cita-cita besar itu antara lain adalah, adanya transformasi diri dan transformasi struktural dari kader partai atau adanya perubahan cara pandang yang benar dalam memandang PKS serta mampu menata organisasinya secara profesional. Di samping itu, indikator keberhasilannya juga dapat di lihat sejauh mana proses kaderisasinya sehingga terbentuk beberapa binaan dan kelompok haloqah sehingga dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya menambah secara kuantitas, tapi juga terciptanya kader yang memiliki kualitas yang handal. Di samping itu, indikator keberhasilannya adalah terbentuk 75 % struktur DPC dan terbentuknya 75 % struktur DPRa pada basis-basis muslim. Dan yang lebih jauh dari itu adalah, PKS mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif pada pemilu 2014 mendatang.
Setidaknya PKS Manggarai Barat, memiliki dua Renstra besar atau cita-cita besar yang hendak di capai. Ia adalah cita-cita Dakwah dan cita-cita Politik. Pertama cita-cita dakwah, PKS bukan sekedar partai politik an sich. Akan tetapi, pada saat yang sama ia juga adalah partai dakwah, di mana ruang lingkup gerakannya lebih luas dari sekedar partai politik. Dakwah pada hakekatnya adalah mengajak manusia untuk berbuat baik, serta berupaya semaksimal mungkin untuk mencegahnya dari perbuatan tidak baik. Hasil dari dakwah itu diharapkan akan terbentuk keshalehan individu dan pada gilirannya akan terbentuk keshalehan sosial. Atau ada semacam perubahan dari kebaikan perseorangan menjadi kebaikan kolektif . Namun demikian, untuk mewujudkan perubahan dimaksud, kita harus memiliki kemauan yang kuat untuk mengekskusi dakwah itu dalam tindakan nyata. Dan yang harus di pahami oleh semua kader PKS pada semua level struktur adalah bahwa, bagi PKS berpolitik adalah dalam rangka menunjang ibadah kita kepada Allah SWT. Dan dalam ibadah, yang paling penting bukanlah hasil yang ingin di dapatkan, melainkan pada proses yang kita jalani apakah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya atau tidak.
Kedua adalah cita-cita politik. Amanat Muswil ke-2 PKS NTT, dan diperkuat dengan rekomendasi politik PKS Manggarai Barat pada MUSDA beberap waktu lalu, PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan 3 kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif pada pemilu 2014 mendatang. Cita-cita itu mungkin sedikit ambisius, atau mungkin saja ia merupakan cita-cita yang teramat realistis. Terlalu ambisius karena memang mesin partai selama ini, tidak dapat bekerja maksimal, ia hanya bekerja menjelang suksesi pemilu dan pemilukada. Pemberdayaan struktrur dan penguatan basis massa masih jauh dari ideal. Cita-cita itu juga bisa di katakan realistis bahkan sangat teramat realistis, karena memang jumlah wajib pilih muslim di Manggarai Barat hampir 22.000, dan idealnya memang dari jumlah wajib pilih itu, umat Islam mampu menghantarkan 6 atau 7 kader terbaiknya untuk duduk di kursi DPRD. Persoalannya kemudian adalah berapa jatah PKS dari jumlah kursi itu ?.
Untuk menunjang dua cita-cita besar di atas, setidaknya PKS Manggarai Barat harus membangun organisasi dakwah yang kuat dan profesional sebagai tulang punggung dakwah , dan juga membangun basis politik yang luas dan merata sebagai kekuatan pendukung partai. Kalau dakwah bersifat elitis-eksklusif maka basis poltik bersifat masif dan terbuka. Kalau basis dakwah berorentasi pada kualitas maka basis politik berorentasi pada kuantitas. Kalau dakwah dibentuk melalui rekrutmen kader yang selektif, maka basis politik dibentuk melalui opini publik. Kalau kader dakwah di bentuk melalui tarbiyah dan proses pengkaderan yang matang maka basis politik di bentuk melalui media massa dan tokoh publik. Begitulah menciptkan sinergi antara dakwah dan politik, antara kualitas dan kuantitas. Keduanya mempunyai peran yang sama-sama strategis
Dan oleh karenanya, indikator keberhasilan dari dua cita-cita besar itu antara lain adalah, adanya transformasi diri dan transformasi struktural dari kader partai atau adanya perubahan cara pandang yang benar dalam memandang PKS serta mampu menata organisasinya secara profesional. Di samping itu, indikator keberhasilannya juga dapat di lihat sejauh mana proses kaderisasinya sehingga terbentuk beberapa binaan dan kelompok haloqah sehingga dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya menambah secara kuantitas, tapi juga terciptanya kader yang memiliki kualitas yang handal. Di samping itu, indikator keberhasilannya adalah terbentuk 75 % struktur DPC dan terbentuknya 75 % struktur DPRa pada basis-basis muslim. Dan yang lebih jauh dari itu adalah, PKS mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislatif pada pemilu 2014 mendatang.
Selasa, 14 Desember 2010
PKS Mabar Bantu Korban Banjir Siru
DPD PKS Manggarai Barat memberikan bantuan beras kepada 40 KK korban banjir di Dusun Ngalor Kalo Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Demikian di ungkapkan Sumardi, S.Pd Ketua DPD PKS Manggarai Barat. Selain Ketua DPD PKS Manggarai Barat kegiatan tersebut, juga hadir dua anggota DPRD dari PKS Manggarai Barat Syakar A. Jangku, M.Si dan Rusding SE. DPD PKS Manggarai Barat di terima secara adat oleh H. Mustafa Ibrahim Tu’a Golo Siru bersama warga dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Pada kesempatan tersbut H. Syamsudin, S.PdI, salah seorang tokoh masyakat Dusun Ngalor Kalo, meminta kepada DPRD untuk memperhatikan kondisi dusunya yang hampir setiap tahun terancam banjir. Ia juga meminta agar di lakukan pengerukan dan pelebaran terhadap sungai Kalo mengingat sungai tersebut sudah dangkal akibat tumpukan material banjir. Di samping itu, masyarakat juga berharap sekiranya pemerintah dibuatkan tanggul sepanjang sungai yang di huni warga.
Menanggapi permintaan tersebut, Syakar A. Jangku, M.Si mengatakan dirinya bersama Rusding, SE dan beberapa anggota DPRD Dapil Lembor akan membahas persoalan ini di tingkat dewan. Bahkan, Syakar A. Jangku, M. Si yang juga merupakan anggoata Komisi DPRD Kabupaten Manggarai Barat berjanji, akan mengkomunikasikan persoalan tersebut pada Drs. Agustinus Ch Dulla, Bupati Manggarai Barat. Banjir yang terjadi pada hari Jum’at (10/12/2010) disebabkan meluapnya sungai Kalo setelah di guyur hujan sepanjang hari. Tidak ada korban jiwa dalam bencana naas tersebut. namun sekitar 50 rumah warga banjir setinggi lutut orang dewasa. [smr]
Pada kesempatan tersbut H. Syamsudin, S.PdI, salah seorang tokoh masyakat Dusun Ngalor Kalo, meminta kepada DPRD untuk memperhatikan kondisi dusunya yang hampir setiap tahun terancam banjir. Ia juga meminta agar di lakukan pengerukan dan pelebaran terhadap sungai Kalo mengingat sungai tersebut sudah dangkal akibat tumpukan material banjir. Di samping itu, masyarakat juga berharap sekiranya pemerintah dibuatkan tanggul sepanjang sungai yang di huni warga.
Menanggapi permintaan tersebut, Syakar A. Jangku, M.Si mengatakan dirinya bersama Rusding, SE dan beberapa anggota DPRD Dapil Lembor akan membahas persoalan ini di tingkat dewan. Bahkan, Syakar A. Jangku, M. Si yang juga merupakan anggoata Komisi DPRD Kabupaten Manggarai Barat berjanji, akan mengkomunikasikan persoalan tersebut pada Drs. Agustinus Ch Dulla, Bupati Manggarai Barat. Banjir yang terjadi pada hari Jum’at (10/12/2010) disebabkan meluapnya sungai Kalo setelah di guyur hujan sepanjang hari. Tidak ada korban jiwa dalam bencana naas tersebut. namun sekitar 50 rumah warga banjir setinggi lutut orang dewasa. [smr]
Sabtu, 11 Desember 2010
Hambatan Psikologis Pemimpin PKS MABAR
Semua orang, apapun latar belakangnya, pekerjaannya, disiplin ilmu yang digelutinya dapat menjadi pemimpin. Namun begitu jadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi dengan tuntutan tugas barunya. Tantangan ketua PKS Mangarai Barat yang paling utama adalah ia harus berpikir, berbicara dan bertindak menjadi seorang ketua PKS Manggarai Barat. Bukan lagi ia berpikir, berbicara dan bertindak layaknya anak ingusan yang masih belia. Menjadi pemimpin pada usia yang relatif muda memang memiliki kendala psikologis yang teramat berat. Ia tidak hanya di hadapkan dengan teman seusia dan sebaya dalam perjuanganya. Tapi ia juga dihadapkan dengan mereka yang memiliki wawasan pengetahuan yang luas , memiliki pengalaman empiris yang amat mendalam.
Tapi tidak kemudian ia terlarut jauh dalam hambatan psikologis itu. Ia harus memiliki tekad untuk melakukan akselerasi pembelajaran dalam segala hal. Termasuk dalam keberanian untuk mengambil keputusan. Kaliber seorang pemimpin dapat di ukur dari kemampuannya dalam mengambil keputusan. Keberanian seorang pemimpin dapat diukur dari resiko yang diambilnya. Kalau resikonya kecil, maka keputusannya biasa-biasa saja. Tapi, kalau resikonya besar, baru keputusan itu dianggap berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil resiko dalam setiap keputusan tidak akan mencapai prestasi besar.
Menjadi tua itu pasti. Tapi, menjadi dewasa itu mungkin pilihan. Menjadi pemimpin pada usia belia, membuatnya untuk terus belajar menjadi orang dewasa, yang bijaksana dalam setiap tindakan, dan tepat sasaran dalam setiap keputusan. Dan sebetulnya, disinilah kepemimpinan muda akan teruji, akankah mereka mampu mengejewantahkan idealisme intelektualnya untuk kemudian menyapa realitas masyatakat ?. Konsep, gagasan, dan ide anak-anak muda di sini akan teruji. Akankah mereka mampu memberikan kekuatan pada alam pikiran untuk kemudian merubahnya menjadi tindakan nyata ?. Hanya waktu yang akan menjawab.
Tapi tidak kemudian ia terlarut jauh dalam hambatan psikologis itu. Ia harus memiliki tekad untuk melakukan akselerasi pembelajaran dalam segala hal. Termasuk dalam keberanian untuk mengambil keputusan. Kaliber seorang pemimpin dapat di ukur dari kemampuannya dalam mengambil keputusan. Keberanian seorang pemimpin dapat diukur dari resiko yang diambilnya. Kalau resikonya kecil, maka keputusannya biasa-biasa saja. Tapi, kalau resikonya besar, baru keputusan itu dianggap berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil resiko dalam setiap keputusan tidak akan mencapai prestasi besar.
Menjadi tua itu pasti. Tapi, menjadi dewasa itu mungkin pilihan. Menjadi pemimpin pada usia belia, membuatnya untuk terus belajar menjadi orang dewasa, yang bijaksana dalam setiap tindakan, dan tepat sasaran dalam setiap keputusan. Dan sebetulnya, disinilah kepemimpinan muda akan teruji, akankah mereka mampu mengejewantahkan idealisme intelektualnya untuk kemudian menyapa realitas masyatakat ?. Konsep, gagasan, dan ide anak-anak muda di sini akan teruji. Akankah mereka mampu memberikan kekuatan pada alam pikiran untuk kemudian merubahnya menjadi tindakan nyata ?. Hanya waktu yang akan menjawab.
Kamis, 09 Desember 2010
Ide Kecil Membangun PKS Manggarai Barat
Musyawarah Daerah DPD PKS Manggarai Barat sudah usai. Tentu, ada banyak harapan yang di emban pemimpin terpilih. Setidaknya harapan itu, PKS Manggarai Barat harus sedikit lebih baik dari periode kepengurusan sebelumnya, atau ada semacam akselerasi perubahan di tubuh Partai Dakwah tersebut. Pemimpin terpilih harus mampu melanjutkan program-program yang sudah di desain kepengurusan sebelumnya. Tidak hanya itu, pemimpin terpilih juga harus mampu melakukan inovasi-inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam mengkreat program sesuai kebutuhan masyarakat.
Tantangan kepengurusan kedepanya memang teramat berat. Dan oleh karenanya, harus segera melakukan Konsolidasi Personal dan Konsolidasi Struktural. Konsolidasi personal dilakukan guna mempersiapkan sumber daya kader yang tangguh untuk mendukung dan menopang semua program partai. Kader Partai harus di beri pemahaman yang utuh, agar mereka bekerja maksimal dan dengan niat yang ikhlas serta mengharap ridho Allah. Konsolidasi struktural di maksudkan guna mempersiapkan struktur partai hingga ke tingkat desa sebagai ujung tombak perjuangan. Untuk mewujudkan akselerasi perubahan yang di maksud, setidaknya ada beberapa hal yang mesti dilakukan kepengurusan periode 2010 – 2015, di antaranya :
Pertama Memperkuat Struktur Partai. Ini di lakukan dengan segera melakukan Musyawarah Cabang dan Musyawarah Ranting, untuk melakukan restrukturisasi atau reposisi kepengurusan di tingkat Kecamatan dan tingkat Desa
Kedua Membangun Jaringan Sosial. Adanya upaya dari kader pada semua level struktur untuk dapat mengintegrasikan diri kedalam berbagai kegiatan masyarakat dan turut berperan aktif dalam merencanakan maupun dalam pelaksanaan kegiatan. Kaser PKS harus mampu membangun komunikasi dengan simpul-simpul kekuatan masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ormas, LSM, dan kalangan pers. Di sinilah kemampuan komunikasi massa dan kelihaian diplomasi kader PKS teruji. Ide, gagasan, pemikiran, dan konsep-konsep kader PKS harus mampu mempengaruhi pola pikir simpul-simpul kekuatan masyarakat tersebut.
Ketiga Mensosialisasikan PKS sebagai Partai Terbuka. Munas ke-2 PKS mempertegas kembali bahwa, PKS adalah partai terbuka. Tidak ada lagi sekat-sekat primordialisme, etnis, budaya, ras dan agama dalam PKS. PKS terbuka bagi semua golongan dan agama. Siapa saja boleh menjadi orang PKS selama ia mengikuti dan mematuhi aturan main yang telah di tetapkan PKS.
Keempat hilangkan kesan ekslusivisme. Ekslusivisme, masih menutup diri dari pergaulan sosial mungkin di antara tantangan yang harus segera di jawab oleh kader PKS. Dalam pandangan banyak orang, PKS masih berkutat membentuk keshalihan individu, mereka belum melampau jauh dalam upaya membentuk keshalihan sosial. Dan oleh karenanya, pergaulan kita jangan hanya di antara sesama kader saja. Yakinlah bahwa, di luar sana masih banyak orang yang ingin bergabung dengan PKS.
Kelima memabangun relasi dengan Pers. Membangun relasi dengan pers adalah sebuah keharusan bagi PKS. Media memiliki peran yang strategis untuk mensosialisasikan program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS. Tidak hanya itu, media juga merupakan salah satu sarana untuk merekayasa ketokohan kader. Setidaknya, dalam satu tahun tiga atau empat kali program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS atau isu-isu aktual yang di daerah harus di respon oleh PKS untuk kemudian di muat di Pos Kupang atau Suara Flores. Dan oleh karenanya, PKS harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pers
Gagasan-gagasan di atas tidak akan dapat menyapa realita. Ide-ide tersebut tidak akan wujud menjadi tindakan nyata, jika tidak adanya kemauan yang kuat dan tekad yang membaja untuk merealisasikannya dari kader-kader PKS. Ia akan menjadi realitas jika terbentuk team work yang kuat, semangat pengorbanan yang tinggi dan landasi dengan kerja ikhlas dari kader PKS pada semua level strukur. Dengan penuh kesadaran yang mendalam. Saya yakin dan percaya bahwa gagasan-gagasan dan ide-ide di atas masih jauh dari kesmpurnaan. Dan oleh karenanaya, masukan-masukan ataupun kritikan-kritkan yang konstrktif dari kita semua sangat kami harapkan.
Tantangan kepengurusan kedepanya memang teramat berat. Dan oleh karenanya, harus segera melakukan Konsolidasi Personal dan Konsolidasi Struktural. Konsolidasi personal dilakukan guna mempersiapkan sumber daya kader yang tangguh untuk mendukung dan menopang semua program partai. Kader Partai harus di beri pemahaman yang utuh, agar mereka bekerja maksimal dan dengan niat yang ikhlas serta mengharap ridho Allah. Konsolidasi struktural di maksudkan guna mempersiapkan struktur partai hingga ke tingkat desa sebagai ujung tombak perjuangan. Untuk mewujudkan akselerasi perubahan yang di maksud, setidaknya ada beberapa hal yang mesti dilakukan kepengurusan periode 2010 – 2015, di antaranya :
Pertama Memperkuat Struktur Partai. Ini di lakukan dengan segera melakukan Musyawarah Cabang dan Musyawarah Ranting, untuk melakukan restrukturisasi atau reposisi kepengurusan di tingkat Kecamatan dan tingkat Desa
Kedua Membangun Jaringan Sosial. Adanya upaya dari kader pada semua level struktur untuk dapat mengintegrasikan diri kedalam berbagai kegiatan masyarakat dan turut berperan aktif dalam merencanakan maupun dalam pelaksanaan kegiatan. Kaser PKS harus mampu membangun komunikasi dengan simpul-simpul kekuatan masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ormas, LSM, dan kalangan pers. Di sinilah kemampuan komunikasi massa dan kelihaian diplomasi kader PKS teruji. Ide, gagasan, pemikiran, dan konsep-konsep kader PKS harus mampu mempengaruhi pola pikir simpul-simpul kekuatan masyarakat tersebut.
Ketiga Mensosialisasikan PKS sebagai Partai Terbuka. Munas ke-2 PKS mempertegas kembali bahwa, PKS adalah partai terbuka. Tidak ada lagi sekat-sekat primordialisme, etnis, budaya, ras dan agama dalam PKS. PKS terbuka bagi semua golongan dan agama. Siapa saja boleh menjadi orang PKS selama ia mengikuti dan mematuhi aturan main yang telah di tetapkan PKS.
Keempat hilangkan kesan ekslusivisme. Ekslusivisme, masih menutup diri dari pergaulan sosial mungkin di antara tantangan yang harus segera di jawab oleh kader PKS. Dalam pandangan banyak orang, PKS masih berkutat membentuk keshalihan individu, mereka belum melampau jauh dalam upaya membentuk keshalihan sosial. Dan oleh karenanya, pergaulan kita jangan hanya di antara sesama kader saja. Yakinlah bahwa, di luar sana masih banyak orang yang ingin bergabung dengan PKS.
Kelima memabangun relasi dengan Pers. Membangun relasi dengan pers adalah sebuah keharusan bagi PKS. Media memiliki peran yang strategis untuk mensosialisasikan program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS. Tidak hanya itu, media juga merupakan salah satu sarana untuk merekayasa ketokohan kader. Setidaknya, dalam satu tahun tiga atau empat kali program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS atau isu-isu aktual yang di daerah harus di respon oleh PKS untuk kemudian di muat di Pos Kupang atau Suara Flores. Dan oleh karenanya, PKS harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pers
Gagasan-gagasan di atas tidak akan dapat menyapa realita. Ide-ide tersebut tidak akan wujud menjadi tindakan nyata, jika tidak adanya kemauan yang kuat dan tekad yang membaja untuk merealisasikannya dari kader-kader PKS. Ia akan menjadi realitas jika terbentuk team work yang kuat, semangat pengorbanan yang tinggi dan landasi dengan kerja ikhlas dari kader PKS pada semua level strukur. Dengan penuh kesadaran yang mendalam. Saya yakin dan percaya bahwa gagasan-gagasan dan ide-ide di atas masih jauh dari kesmpurnaan. Dan oleh karenanaya, masukan-masukan ataupun kritikan-kritkan yang konstrktif dari kita semua sangat kami harapkan.
Senin, 06 Desember 2010
Sisi Lain MUSDA PKS Manggarai Barat
Ada sisi lain yang menarik ketika MUSDA ke -2 PKS Manggarai Barat. Usai di lantik menjadi Ketua DPD PKS Manggarai Barat, saya di datangi teman-teman wartawan Pos Kupang dan Flores Pos. Mereka adalah rekan seprofesi saya, di saat saya aktif menjadi Wartawan RRI Ende Daerah Manggarai Barat sejak tahun 2008. Sebelum mereka mencerca saya dengan banyak pertanyaan, rekan saya Gins Wartawan Pos Kupang berbisik. “Bang, berapa kos politik yang abang keluarkan untuk memenangkan pertarungan untuk menjadi orang nomor satu di PKS Manggarai Barat”. Saya hanya tersenyum, sambil menepuk punggungnya, dan saya katakan, tak sepersenpun kocekan rupiah yang saya keluarkan untuk menjadi ketua PKS Manggarai Barat. Tatapan matanya seolah tak percaya dengan kata-kata saya. Lalu kemudian, sedikit saya berkelakar tentang mekanisme dan tradisi Pemilihan Ketua di internal PKS.
Saya katakan, landasan PKS untuk menentukan pemimpinnya adalah “ Jangan berikan pemimpin kepada mereka yang memintanya, dan jangan berikan pemimpin kepada mereka yang memang tidak mau untuk memimpin “. Sehingga tidak ada hingar bingar, kasak-kusuk dari tim sukses yang ingin memenangkan jagoannya. Jadi, tidak ada rival-rivalan dalam PKS, tidak ada lawan dalam pemilihan Ketua. Yang ada hanya kawan yang sama-sama siap berkontribusi untuk partai. Dan bagi saya, tidak ada sesuatu yang amat istimewa menjadi seorang Ketua Partai.
Di tengah saya menjelaskan tentang mekanisme pemilihan ketua di internal PKS, rekan saya Ndarung wartawan Flores Pos, celetuk bertanya, “ Ah, mungkin abang mainnya di Kupang”. Terhadap pertanyaan ini saya katakan, justru yang main mata dengan DPW yang terlebih dahulu di coret menjadi nominasi kepengurusan. Labih lanjut saya jelaskan, semua kita pada posisi menunggu keputusan DPW, sebagai kader partai, kami hanya bisa dengar dan kami laksanakan, tidak lebih dari itu. Cercaan pertanyaan dari dua rekan wartawan diatas adalah sesuatu yang teramat wajar, karena mamang seperti itulah yang kerap kita jumpai pada partai-partai lain dalam prosesi pemilihan ketua. Tidak sedikit kocekan rupiah yang keluar hanya untuk menjadi ketua Partai. Kubu-kubuan sebelum pemilihan ketua nampak terlihat jelas saat proses sidang berlangsung.
Disinilah sebetulnya, kelihaian kader PKS dalam memahamkan Partai Dakwah ini kepada khalayak, kemampuan komunikasi dan kehebatan berdiplomasi sangat di butuhkan seorang pemimpin PKS dalam menterjemahkan nilai-nilai luhur Islam kepada masyarakat. Dan media adalah salah satu sarana untuk mensosialisasikan ruh perjuangan PKS itu. Membangun relasi dengan kalangan pers adalah suatu keharusan bagi PKS. Dan bahkan Montesqiu seorang filosuf Yunani, menempatkan Pers sebagai salah satu pilar demokrasi setelah Ekskutif, Legislatif dan Yudikatif.
Saya katakan, landasan PKS untuk menentukan pemimpinnya adalah “ Jangan berikan pemimpin kepada mereka yang memintanya, dan jangan berikan pemimpin kepada mereka yang memang tidak mau untuk memimpin “. Sehingga tidak ada hingar bingar, kasak-kusuk dari tim sukses yang ingin memenangkan jagoannya. Jadi, tidak ada rival-rivalan dalam PKS, tidak ada lawan dalam pemilihan Ketua. Yang ada hanya kawan yang sama-sama siap berkontribusi untuk partai. Dan bagi saya, tidak ada sesuatu yang amat istimewa menjadi seorang Ketua Partai.
Di tengah saya menjelaskan tentang mekanisme pemilihan ketua di internal PKS, rekan saya Ndarung wartawan Flores Pos, celetuk bertanya, “ Ah, mungkin abang mainnya di Kupang”. Terhadap pertanyaan ini saya katakan, justru yang main mata dengan DPW yang terlebih dahulu di coret menjadi nominasi kepengurusan. Labih lanjut saya jelaskan, semua kita pada posisi menunggu keputusan DPW, sebagai kader partai, kami hanya bisa dengar dan kami laksanakan, tidak lebih dari itu. Cercaan pertanyaan dari dua rekan wartawan diatas adalah sesuatu yang teramat wajar, karena mamang seperti itulah yang kerap kita jumpai pada partai-partai lain dalam prosesi pemilihan ketua. Tidak sedikit kocekan rupiah yang keluar hanya untuk menjadi ketua Partai. Kubu-kubuan sebelum pemilihan ketua nampak terlihat jelas saat proses sidang berlangsung.
Disinilah sebetulnya, kelihaian kader PKS dalam memahamkan Partai Dakwah ini kepada khalayak, kemampuan komunikasi dan kehebatan berdiplomasi sangat di butuhkan seorang pemimpin PKS dalam menterjemahkan nilai-nilai luhur Islam kepada masyarakat. Dan media adalah salah satu sarana untuk mensosialisasikan ruh perjuangan PKS itu. Membangun relasi dengan kalangan pers adalah suatu keharusan bagi PKS. Dan bahkan Montesqiu seorang filosuf Yunani, menempatkan Pers sebagai salah satu pilar demokrasi setelah Ekskutif, Legislatif dan Yudikatif.
Kamis, 02 Desember 2010
PKS Bukan Sekedar Partai Politik
Hasil Wawancara dengan Syakar A. Jangku, M.Si
Anggota DPRD PKS Manggarai Barat)
Menjelang MUSDA II PKS Manggarai Barat
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya sekedar Partai Poltik an sich, seperti partai-partai politik pada umumnya. Tapi ia juga adalah partai Dakwah, yang mengajak masyarakat untuk terus melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan praktek-praktek KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan bagi PKS, politik-kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangannya. Tapi politik-kekuasaan dalam persepektif PKS, hanya sarana perjuangan dalam kerangka mewujudkan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Dan kader PKS harus benar-benar memahami ini. Demikian di ungkapkan Syakar A. Jangku, M.Si, Anggota DPRD PKS Manggarai Barat.
Masyarakat Madani yang di dambakan PKS, dalam pandangan Sykara A. Jangku, M.Si adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju, yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum dan moral yang di topang oleh semangat keimanan, menghormati pluralitas, terbuka dan demokratis dengan mengedapankan asas keadilan.
Untuk memerangi keterbelakangan, kemisikinan dan praktek-praktek KKN, harus ada langkah-langkah strategis dan kemauan politik dari politisi PKS. Dan pada saat yang sama, PKS menyadari bahwa membangun Manggarai Barat yang multi etnik, agama ras dan budaya, tidak bisa di lakukan oleh sekelompok golongan tertentu saja. Dan oleh karenanya, membangun diskusi dan komunikasi dengan para politisi-politisi lain adalah sebuah keharusan yang harus di lakoni para politis PKS dalam upaya memerangi keterbelakangan, kemiskinan dan praktek-prakte KKN.
Lebih jauh Syakar A. Jangku, M.Si, mengatakan, PKS Manggarai Barat kedepannya harus terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, simpul-simpul kekuatan umat, ormas-ormas Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan potensi umat dan cara pandang umat dalam melihat realitas umat saat ini. PKS Manggarai Barat harus mampu menjadi lokomotif persatuan umat. PKS harus mampu menjadi problem solver ummat dan masyarakat pada umumnya, kehadirannya harus mampu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Kepemimpinan PKS yang di harapkan Syakar A. Jangku, M.Si kedepannya, haruslah yang memiliki cara pandang yang komperhensif dalam menata organisasi secara profesional. Konsolidasi personal dan struktural harus menjadi agenda politik Pemimpin PKS kedepannya. Di samping itu Syakar A. Jangku, M.Si juga berharap, pemimpin PKS juga harus memiliki inovasi berpikir, kreatif dalam mengkreasi program serta cepat dalam menanggapi persoalan umat
Anggota DPRD PKS Manggarai Barat)
Menjelang MUSDA II PKS Manggarai Barat
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya sekedar Partai Poltik an sich, seperti partai-partai politik pada umumnya. Tapi ia juga adalah partai Dakwah, yang mengajak masyarakat untuk terus melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan praktek-praktek KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan bagi PKS, politik-kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangannya. Tapi politik-kekuasaan dalam persepektif PKS, hanya sarana perjuangan dalam kerangka mewujudkan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Dan kader PKS harus benar-benar memahami ini. Demikian di ungkapkan Syakar A. Jangku, M.Si, Anggota DPRD PKS Manggarai Barat.
Masyarakat Madani yang di dambakan PKS, dalam pandangan Sykara A. Jangku, M.Si adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju, yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum dan moral yang di topang oleh semangat keimanan, menghormati pluralitas, terbuka dan demokratis dengan mengedapankan asas keadilan.
Untuk memerangi keterbelakangan, kemisikinan dan praktek-praktek KKN, harus ada langkah-langkah strategis dan kemauan politik dari politisi PKS. Dan pada saat yang sama, PKS menyadari bahwa membangun Manggarai Barat yang multi etnik, agama ras dan budaya, tidak bisa di lakukan oleh sekelompok golongan tertentu saja. Dan oleh karenanya, membangun diskusi dan komunikasi dengan para politisi-politisi lain adalah sebuah keharusan yang harus di lakoni para politis PKS dalam upaya memerangi keterbelakangan, kemiskinan dan praktek-prakte KKN.
Lebih jauh Syakar A. Jangku, M.Si, mengatakan, PKS Manggarai Barat kedepannya harus terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, simpul-simpul kekuatan umat, ormas-ormas Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan potensi umat dan cara pandang umat dalam melihat realitas umat saat ini. PKS Manggarai Barat harus mampu menjadi lokomotif persatuan umat. PKS harus mampu menjadi problem solver ummat dan masyarakat pada umumnya, kehadirannya harus mampu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Kepemimpinan PKS yang di harapkan Syakar A. Jangku, M.Si kedepannya, haruslah yang memiliki cara pandang yang komperhensif dalam menata organisasi secara profesional. Konsolidasi personal dan struktural harus menjadi agenda politik Pemimpin PKS kedepannya. Di samping itu Syakar A. Jangku, M.Si juga berharap, pemimpin PKS juga harus memiliki inovasi berpikir, kreatif dalam mengkreasi program serta cepat dalam menanggapi persoalan umat
Sikap Reaktif Mencerminkan Kepribadian Kita
Reaktif. Mungkin itulah reaksi yang lazim bagi kita, ketika menghadapi sebuah persoalan. Sebuah sikap yang mencerminkan betapa dangkalnya pengetahuan kita dalam menyikapi persoalan. Sebuah reaksi yang mengindikasikan bahwa memang kita, tidak sabar dalam menghadapi tantangan. Persoalan memang bukan untuk di hindari tapi, ia untuk di hadapi. Tapi pertanyaannya kemudian adalah bagaimana sikap kita menghadapi persoalan itu ?
Ketika seorang anak dengan tidak sengaja memecahkan gelas di dapur. Maka, sudah bisa di tebak reaksi yang muncul dari orang tua atau mungkin kita adalah, ia di marahi, di omeli atau mungkin di pukuli. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah dengan ia di marahi atau dipukuli bisa mengembalikan gelas yang pecah seperti sediakala ?, Apakah dengan cara seperti itu bisa menyelesiakan persoalan ?. Dalam hemat saya, sikap reaktif seperti itu tidak akan menyelesaikan persoalan tapi, justru ia akan memancing persoalan-persoalan baru, yang akan memperkeruh suasana. Yang mesti di lakukan dalam rangka mencari langkah solitif adalah, tanyakan kepada anak itu, kenapa gelasnya bisa pecah, dan beri ia nasehat dengan hikmah agar jangan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita “Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan perkataan yang baik”.
Dalam kasus lain misalnya, ada dua orang yang memiliki persoalan sama. Katakanlah si Mamat dan si Memet. Dalam menghadapi persoalan si Mamat dan si Memet memiliki paradigma yang berbeda-beda atas persoalan yang mereka hadapi. Si Mamat menyikapinya dengan tegang, tergesa-gesa, pusing, stress. Sementara pada saat yang sama si Memet menyikapi persoalannya dengan bijak, kepala dingin, tidak tergesa-gesa, bahkan ia justru menikmati persoalan yang menimpanya. Lalu kemudian, di manakah letak persoalannya ?. Sementara persoalan yang mereka hadapi adalah sama, tapi cara menyikapinya berbeda-beda. Persoalan sebenarnya adalah bukan terletak pada permasalahannya, akan tetapi persoalan yang sesungguhnya adalah terletak pada bagaimana SIKAP kita terhadap persoalan tersebut. Sekali lagi di tegaskan, persoalannya adalah terletak pada SIKAP kita terhadap persoalan tersebut.
Dalam konteks dakwah, sikap reaktif seperti diatas kerap kali kita jumpai dalam menghadapi persoalan, tapi tidak kemudian ia di selesaikan dengan hujat-hujatan, bantah-bantahan dan seterusnya. Dakwah pulalah mengajarkan kepada kita, bagaimana menyikapi persoalan, tidak hanya itu, dakwah juga yang menuntun kita untuk bagaimana mengatasi persoalan. Jika kita cermat membaca buku Dakwah di era Jahriyyah dan Jamahiriyyah karangan Ust. Mahfudz Sidiq, maka disana akan kita jumpai bagaimana semestinya yang di lakukan kader dakwah ketika menghadapi kader yang mungkin sedikit bermasalah “dalam tanda kutip”. Wallahu’alam
Ketika seorang anak dengan tidak sengaja memecahkan gelas di dapur. Maka, sudah bisa di tebak reaksi yang muncul dari orang tua atau mungkin kita adalah, ia di marahi, di omeli atau mungkin di pukuli. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah dengan ia di marahi atau dipukuli bisa mengembalikan gelas yang pecah seperti sediakala ?, Apakah dengan cara seperti itu bisa menyelesiakan persoalan ?. Dalam hemat saya, sikap reaktif seperti itu tidak akan menyelesaikan persoalan tapi, justru ia akan memancing persoalan-persoalan baru, yang akan memperkeruh suasana. Yang mesti di lakukan dalam rangka mencari langkah solitif adalah, tanyakan kepada anak itu, kenapa gelasnya bisa pecah, dan beri ia nasehat dengan hikmah agar jangan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Bukankah Islam mengajarkan kepada kita “Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan perkataan yang baik”.
Dalam kasus lain misalnya, ada dua orang yang memiliki persoalan sama. Katakanlah si Mamat dan si Memet. Dalam menghadapi persoalan si Mamat dan si Memet memiliki paradigma yang berbeda-beda atas persoalan yang mereka hadapi. Si Mamat menyikapinya dengan tegang, tergesa-gesa, pusing, stress. Sementara pada saat yang sama si Memet menyikapi persoalannya dengan bijak, kepala dingin, tidak tergesa-gesa, bahkan ia justru menikmati persoalan yang menimpanya. Lalu kemudian, di manakah letak persoalannya ?. Sementara persoalan yang mereka hadapi adalah sama, tapi cara menyikapinya berbeda-beda. Persoalan sebenarnya adalah bukan terletak pada permasalahannya, akan tetapi persoalan yang sesungguhnya adalah terletak pada bagaimana SIKAP kita terhadap persoalan tersebut. Sekali lagi di tegaskan, persoalannya adalah terletak pada SIKAP kita terhadap persoalan tersebut.
Dalam konteks dakwah, sikap reaktif seperti diatas kerap kali kita jumpai dalam menghadapi persoalan, tapi tidak kemudian ia di selesaikan dengan hujat-hujatan, bantah-bantahan dan seterusnya. Dakwah pulalah mengajarkan kepada kita, bagaimana menyikapi persoalan, tidak hanya itu, dakwah juga yang menuntun kita untuk bagaimana mengatasi persoalan. Jika kita cermat membaca buku Dakwah di era Jahriyyah dan Jamahiriyyah karangan Ust. Mahfudz Sidiq, maka disana akan kita jumpai bagaimana semestinya yang di lakukan kader dakwah ketika menghadapi kader yang mungkin sedikit bermasalah “dalam tanda kutip”. Wallahu’alam
Senin, 22 November 2010
Ketika Penyakit Superioritas Melanda Aktivis Dakwah
Nampaknya, sudah terlampau jauh kita melangkah dalam dakwah. Dalam rentangan waktu itu pula, ada banyak dinamika yang kita lalui dan kita lewati. Dinamika itu, semestinya semakin mendewasakan kita dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah. Namun dalam kenyataannya, justru kita terus menggerutu dan masih jalan ditempat dalam menyikapi dinamika itu. Belum dewasa dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah, itu mungkin menjadi tantangan kita. Menjadi orang tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu mungkin pilihan.
Superioritas, memandang diri lebih dari yang lainnya, juga diantara penyakit-penyakit dakwah yang dalam hemat saya yang tengah kita hadapi saat ini. Superioritas intelektual, menjadikan pelakunya merasa paling bisa, paling hebat, paling pandai. Sehingga, yang ada dalam benaknya adalah, kalau bukan saya pekerjaan itu tidak tuntas. Superioritas usia tarbawiyah, penyakit ini menghantarkan pelakunya pada sikap acuh tak acuh dan apatis dengan yang lainnya. Sikap ini, biasanya terekespresi dalam mengemukakan pendapat dalam majelis syuro, seolah memberikan instruksi yang mesti di amini oleh orang-orang disekitarnya.
Superioritas ruhiyah, penyakit ini akan dapat membuat pelakunya merasa amal ibadahnya lebih baik dari yang lainnya, dan ini dapat terlihat dari ekspresi dirinya ketika menyampaikan tausiyah-tausiyah ruhaniyah. Muatan tausiyahnya seolah menggurui dengan yang lainnya. Sementara pada saat yang sama kita lupa bahwa, David
Beckham kapten Timnas andalan Inggris menjadi pemain terbaik dunia, karena ia di topang oleh tim kesebelasan yang handal, solid dan kuat. Saya, dan juga mungkin kita semua berharap bahwa, sekiranya catatan-catatan kecil ini, akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi diri, refleksi dan evaluasi jama’ah dakwah. Sehingga kita mampu, dan dapat menatap dakwah dengan langkah yang sedikit agak mantap dari sebelumnya. Wallahu’alam
Superioritas, memandang diri lebih dari yang lainnya, juga diantara penyakit-penyakit dakwah yang dalam hemat saya yang tengah kita hadapi saat ini. Superioritas intelektual, menjadikan pelakunya merasa paling bisa, paling hebat, paling pandai. Sehingga, yang ada dalam benaknya adalah, kalau bukan saya pekerjaan itu tidak tuntas. Superioritas usia tarbawiyah, penyakit ini menghantarkan pelakunya pada sikap acuh tak acuh dan apatis dengan yang lainnya. Sikap ini, biasanya terekespresi dalam mengemukakan pendapat dalam majelis syuro, seolah memberikan instruksi yang mesti di amini oleh orang-orang disekitarnya.
Superioritas ruhiyah, penyakit ini akan dapat membuat pelakunya merasa amal ibadahnya lebih baik dari yang lainnya, dan ini dapat terlihat dari ekspresi dirinya ketika menyampaikan tausiyah-tausiyah ruhaniyah. Muatan tausiyahnya seolah menggurui dengan yang lainnya. Sementara pada saat yang sama kita lupa bahwa, David
Beckham kapten Timnas andalan Inggris menjadi pemain terbaik dunia, karena ia di topang oleh tim kesebelasan yang handal, solid dan kuat. Saya, dan juga mungkin kita semua berharap bahwa, sekiranya catatan-catatan kecil ini, akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi diri, refleksi dan evaluasi jama’ah dakwah. Sehingga kita mampu, dan dapat menatap dakwah dengan langkah yang sedikit agak mantap dari sebelumnya. Wallahu’alam
Senin, 08 November 2010
Menterjemahkan Visi Misi PKS dengan Pendekatan Kultur
(Tanggapan atas Comment Kae Ahmad Adil* atas tulisan saya "AMBISI POLITIK PKS MABAR)
Nampaknya menarik untuk merespon masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi Kae Ahmad Adil atas tulisan saya di akun facebook tentang “AMBISI POLITIK PKS Manggarai Barat ”. Satu hal yang mesti kita apresiasi adalah bahwa, Kae Ahmad Adil merasa PKS adalah bagian yang terintegral dari dirinya, karenanya ia memberikan rekomendasi-rekomendasi yang ilmiah untuk kemajuan PKS Manggarai Barat, dan ini sebetulnya bukti tanggung jawab moralnya atas realitas PKS Manggarai Barat dan kondisi umat Islam di Manggarai Barat saat ini. Sebagai putra asli Manggarai Barat, yang berada diperantuan Kae Ahmad Adil terus memantau perkembangan PKS Manggarai Barat. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mesti PKS, dan bukan yang lainnya ?. Dalam hemat saya, Kae Ahmad Adil sadar dan dengan penuh keyakinan yang kuat, bahwa PKS adalah satu-satunya partai Islam yang menjadi tumpuan harapan ummat. Dan ini mesti harus dijawab dengan kerja-kerja nyata oleh kader-kader PKS Manggarai Barat.
PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislative pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS NTT. Cita-cita politik ini harus di jawab dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas oleh kader-kader PKS Manggarai Barat. Menanggapi tulisan diatas Kae Ahmad Adil dalam commentya mengtakan untuk merealisasikan cita-cita politik itu “PKS Manggarai Barat harus mampu menterjemahkan visi misi partai dengan pendekatan budaya, tentu dengan tidak menghilangkan substansi dari visi misi itu“. Setiap daerah pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Manggarai Barat pun demikian, masyarakatnya tentu memiliki takaran-takaran nilai, etika, estitika yang mereka anut dan mereka yakini kebenaranya. Dan PKS semestinya menghormati itu, dan jadikan ia sebagai khasanah pengetahuan untuk kemudian dipelajari dengan seksama, sehingga PKS mampu berbaur dan masuk serta menyelam ke dalam lubuk hati masyarakat. Mereka mempunyai tata karma, dan etika pergaulan sosial yang memang berbeda dengan daerah-daerah lain. Pelanggaran terhadap tata krama dan etika pergaulan social, akan berdampak pada pengisolasian sosial dan ini akan berdampak pada sulitnya PKS mengakses mereka lebih dalam.
Dalam pandangan saya, belum ada kader PKS Manggarai Barat yang benar-benar memahami budaya Manggarai Barat secara mendalam, kader-kader PKS Manggarai Barat lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri perantuan untuk mencari ilmu. Dan oleh karennya, waktu untuk mempelajari adat dan budaya daerah nyaris tiada. Tapi, tidak kemudian kita apatis untuk belajar serta mempelajari adat dan budaya daerah. Budaya Pa’u Tuak atau Pa’u Manuk, acapkali kita jumpai di daerah daratan pedalaman, dan ini setidaknya membutuhkan keahlian khusus untuk menjawab Jaong Adat tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya pribadi, ketika Tu’a Golo Datak Desa Golo Ronggot, menyerahkan sebidang tanah waqaf untuk pembangunan masjid di daearah itu, penerimaan saya dan teman-teman dilakukan secara adapt, dengan Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok. Karena rata-rata yang datang adalah anak-anak muda yang belum memahami betul adat dan budaya, maka kami hanya bisa menjawab Jaong Adat itu dengan senyum simpul khas anak muda dan menyerahkan uang seadanya sebagai imbalan atas Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok.
Pada saat yang sama Kae Ahmad Adil juga berkomentar “Untuk mencapai cita-cita politiknya, PKS Manggarai Barat juga harus melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment). Analisis SWOT dipandang perlu dalam sebuah organisasi, hal ini di maksudkan dalam kerangka untuk memetakan, merumuskan, mengolah, menganalisis dan mengekskusi target-target politik yang ingin diraih. Analisasi SWOT akan menjadi penting, karena ia adalah pijakan dan refrensi ilmiah dalam mengoperasionalkan kerja-kerja partai. Dengan melakukan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui kekuatan-kekuatan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat mempertahankan kekuatan-kekuatan yang ada dan tetap berupaya agar kekuatan-kekuatan itu dapat dimaksimalkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya itu, Analisis SWOT, akan mengetahui kelemehan-kelemahan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat melakukan langkah-langkah prefentif, agar kelemahan-kelemahan itu bisa di antispatif sedini mungkin. Kemudian dengan analisis SWOT juga, akan dapat mengetahui peluang-peluang kemenangan yang mesti mereka rebut. Dan dengan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui ancaman-ancaman yang dapat menghalau cita-cita politik mereka, untuk mendapatkan tiga kursi pada pemilu 2014 mendatang.
* Ahmad Adil adalah Magister Ilmu Komputer Putra Lembor, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika -STMIK Bumigora Mataram NTB
Nampaknya menarik untuk merespon masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi Kae Ahmad Adil atas tulisan saya di akun facebook tentang “AMBISI POLITIK PKS Manggarai Barat ”. Satu hal yang mesti kita apresiasi adalah bahwa, Kae Ahmad Adil merasa PKS adalah bagian yang terintegral dari dirinya, karenanya ia memberikan rekomendasi-rekomendasi yang ilmiah untuk kemajuan PKS Manggarai Barat, dan ini sebetulnya bukti tanggung jawab moralnya atas realitas PKS Manggarai Barat dan kondisi umat Islam di Manggarai Barat saat ini. Sebagai putra asli Manggarai Barat, yang berada diperantuan Kae Ahmad Adil terus memantau perkembangan PKS Manggarai Barat. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mesti PKS, dan bukan yang lainnya ?. Dalam hemat saya, Kae Ahmad Adil sadar dan dengan penuh keyakinan yang kuat, bahwa PKS adalah satu-satunya partai Islam yang menjadi tumpuan harapan ummat. Dan ini mesti harus dijawab dengan kerja-kerja nyata oleh kader-kader PKS Manggarai Barat.
PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislative pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS NTT. Cita-cita politik ini harus di jawab dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas oleh kader-kader PKS Manggarai Barat. Menanggapi tulisan diatas Kae Ahmad Adil dalam commentya mengtakan untuk merealisasikan cita-cita politik itu “PKS Manggarai Barat harus mampu menterjemahkan visi misi partai dengan pendekatan budaya, tentu dengan tidak menghilangkan substansi dari visi misi itu“. Setiap daerah pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Manggarai Barat pun demikian, masyarakatnya tentu memiliki takaran-takaran nilai, etika, estitika yang mereka anut dan mereka yakini kebenaranya. Dan PKS semestinya menghormati itu, dan jadikan ia sebagai khasanah pengetahuan untuk kemudian dipelajari dengan seksama, sehingga PKS mampu berbaur dan masuk serta menyelam ke dalam lubuk hati masyarakat. Mereka mempunyai tata karma, dan etika pergaulan sosial yang memang berbeda dengan daerah-daerah lain. Pelanggaran terhadap tata krama dan etika pergaulan social, akan berdampak pada pengisolasian sosial dan ini akan berdampak pada sulitnya PKS mengakses mereka lebih dalam.
Dalam pandangan saya, belum ada kader PKS Manggarai Barat yang benar-benar memahami budaya Manggarai Barat secara mendalam, kader-kader PKS Manggarai Barat lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri perantuan untuk mencari ilmu. Dan oleh karennya, waktu untuk mempelajari adat dan budaya daerah nyaris tiada. Tapi, tidak kemudian kita apatis untuk belajar serta mempelajari adat dan budaya daerah. Budaya Pa’u Tuak atau Pa’u Manuk, acapkali kita jumpai di daerah daratan pedalaman, dan ini setidaknya membutuhkan keahlian khusus untuk menjawab Jaong Adat tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya pribadi, ketika Tu’a Golo Datak Desa Golo Ronggot, menyerahkan sebidang tanah waqaf untuk pembangunan masjid di daearah itu, penerimaan saya dan teman-teman dilakukan secara adapt, dengan Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok. Karena rata-rata yang datang adalah anak-anak muda yang belum memahami betul adat dan budaya, maka kami hanya bisa menjawab Jaong Adat itu dengan senyum simpul khas anak muda dan menyerahkan uang seadanya sebagai imbalan atas Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok.
Pada saat yang sama Kae Ahmad Adil juga berkomentar “Untuk mencapai cita-cita politiknya, PKS Manggarai Barat juga harus melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment). Analisis SWOT dipandang perlu dalam sebuah organisasi, hal ini di maksudkan dalam kerangka untuk memetakan, merumuskan, mengolah, menganalisis dan mengekskusi target-target politik yang ingin diraih. Analisasi SWOT akan menjadi penting, karena ia adalah pijakan dan refrensi ilmiah dalam mengoperasionalkan kerja-kerja partai. Dengan melakukan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui kekuatan-kekuatan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat mempertahankan kekuatan-kekuatan yang ada dan tetap berupaya agar kekuatan-kekuatan itu dapat dimaksimalkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya itu, Analisis SWOT, akan mengetahui kelemehan-kelemahan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat melakukan langkah-langkah prefentif, agar kelemahan-kelemahan itu bisa di antispatif sedini mungkin. Kemudian dengan analisis SWOT juga, akan dapat mengetahui peluang-peluang kemenangan yang mesti mereka rebut. Dan dengan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui ancaman-ancaman yang dapat menghalau cita-cita politik mereka, untuk mendapatkan tiga kursi pada pemilu 2014 mendatang.
* Ahmad Adil adalah Magister Ilmu Komputer Putra Lembor, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika -STMIK Bumigora Mataram NTB
Jumat, 05 November 2010
Desa Siru di Terjang Banjir
Peristiwa itu tidak pernah mereka bayangkan, atau mungkin saja kejadian itu tidak pernah terlintas dalam alam pikiran mereka. Atau bahkan, lebih jauh dari itu, mereka tidak pernah meminta dalam do’a, ucapan ataupun oborolan-obralan hari-hari mereka akan peristiwa dan kejadian itu. Tapi ia benar-benar terjadi. Bencana Banjir Bandang melanda kampung halaman mereka, Dusun Ngalor Kalo Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat.
Tanda-tanda alam akan bencana itu memang sudah ada, hujan lebat sepanjang hari mengguyur kampung halaman mereka. Namun, mareka tidak pernah berpikir kalau gejala alam itu akan membawa dampak bencana. Karena memang, akhir-akhir ini hujan terus mengguyur desa mereka, namun tidak membawa dampak apa-apa atas hujan tersebut. Sehingga hujan hari itu (03/11/2010) pun mereka anggap berkah, karena pada saat yang sama mereka memebutuhkan air hujan untuk tanaman-tanaman pertanian mereka.
Sekitar pukul 16.00 WITA, dalam waktu sekejap tiba-tiba air sungai Ngalor Kalo meluap, dan menggenangi rumah-rumah mereka. Merekapun panik, teriak histeris, melarikan diri ketempat yang sedikit lebih aman. Orang-orang tua berteriak mencari anak-anaknya untuk di selamatkan, anak-anak kecil teriak histeris memanggil orang tuanya untuk diselamatkan. Merekapun melarikan diri, dengan membawa anak-anak mereka, dan menenteng harta benda yang masih bisa di bawah untuk menghindari ancaman maut bencana yang besar itu. Dan ada 47 Rumah penduduk yang terendam banjir.
Banjir bandang itu memang tidak menelan korban jiwa. Tapi, harta benda mereka, ternak mereka, padi-padi mereka yang masih didalam karung tidak bisa terselematkan, dan amblas terbawa banjir. Data yang diperoleh kerugian akibat banjir itu, mencapai 160 juta lebih. Antrian panjang sepanjang jalan raya menhubungkan Labuan Bajo dan Ruteng tidak dapat terhindarkan karena memang ketinggian air sepinggang orang dewasa.
Ada 47 KK dan ratusan jiwa yang menjadi korban peristiwa naas yang menimpa Dusun Ngalor Kalo Desa Siru itu. Kini, ke 47 KK itu sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun, trauma psikologis akan bencana itu, masih nampak jelas terlihat dari tatapan wajah-wajah polos mereka. Saya, dan semua kita, tentu turut berbelasungkawa dan berduka cita atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Dusun Ngalor Kalo Desa Siru. Dan kita pun tidak hanya di tuntut untuk bersimpati, tapi pada saat yang sama juga kita di tuntut untuk berempati. Teriring do’a kita terus ucapakan, semoga Allah kuatkan hati mereka, kuatkan kesabaran mereka atas bencana yang mereka alami.
Tanda-tanda alam akan bencana itu memang sudah ada, hujan lebat sepanjang hari mengguyur kampung halaman mereka. Namun, mareka tidak pernah berpikir kalau gejala alam itu akan membawa dampak bencana. Karena memang, akhir-akhir ini hujan terus mengguyur desa mereka, namun tidak membawa dampak apa-apa atas hujan tersebut. Sehingga hujan hari itu (03/11/2010) pun mereka anggap berkah, karena pada saat yang sama mereka memebutuhkan air hujan untuk tanaman-tanaman pertanian mereka.
Sekitar pukul 16.00 WITA, dalam waktu sekejap tiba-tiba air sungai Ngalor Kalo meluap, dan menggenangi rumah-rumah mereka. Merekapun panik, teriak histeris, melarikan diri ketempat yang sedikit lebih aman. Orang-orang tua berteriak mencari anak-anaknya untuk di selamatkan, anak-anak kecil teriak histeris memanggil orang tuanya untuk diselamatkan. Merekapun melarikan diri, dengan membawa anak-anak mereka, dan menenteng harta benda yang masih bisa di bawah untuk menghindari ancaman maut bencana yang besar itu. Dan ada 47 Rumah penduduk yang terendam banjir.
Banjir bandang itu memang tidak menelan korban jiwa. Tapi, harta benda mereka, ternak mereka, padi-padi mereka yang masih didalam karung tidak bisa terselematkan, dan amblas terbawa banjir. Data yang diperoleh kerugian akibat banjir itu, mencapai 160 juta lebih. Antrian panjang sepanjang jalan raya menhubungkan Labuan Bajo dan Ruteng tidak dapat terhindarkan karena memang ketinggian air sepinggang orang dewasa.
Ada 47 KK dan ratusan jiwa yang menjadi korban peristiwa naas yang menimpa Dusun Ngalor Kalo Desa Siru itu. Kini, ke 47 KK itu sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun, trauma psikologis akan bencana itu, masih nampak jelas terlihat dari tatapan wajah-wajah polos mereka. Saya, dan semua kita, tentu turut berbelasungkawa dan berduka cita atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Dusun Ngalor Kalo Desa Siru. Dan kita pun tidak hanya di tuntut untuk bersimpati, tapi pada saat yang sama juga kita di tuntut untuk berempati. Teriring do’a kita terus ucapakan, semoga Allah kuatkan hati mereka, kuatkan kesabaran mereka atas bencana yang mereka alami.
Langganan:
Postingan (Atom)